Selasa, 24 Mei 2016

Kenapa Saya Menulis?

Kenapa Saya Menulis??

Mulanya, awal-awal keinginan menulis muncul, karena saya terkesima dengan beberapa buku yang saya baca. Khususnya fiksi dan buku motivasi. Lalu, muncul gairah untuk ikut menulis juga. Pikir saya, saya juga bisa menulis, dan mungkin akan terlihat keren kalau sudah punya buku sendiri. Hehe

Seiring pembelajaran yang maju mundur sesuai waktu luang dan mood, sambil mengatasi kesulitan-kesulitan yang menghadang(hehe lebay), pelan-pelan niat saya berubah.

Peubahan niat ini terjadi dalam proses belajar menulis. Dulu awal-awal belajar(sekarang pun masih belajar) kalimat saya selalu dibumbui istilah-istilah yang tidak umum dan terkesan berbobot. Kalimat pun dibuat semenarik mungkin bahkan sedikit dipuitiskan. Itu semua agar terkesan keren. Sayangnya ketika dibaca dahi malah mengkerut. Tulisan justru tidak enak dibaca. Fiksi juga demikian, awal-awalnya, semua kalimat seolah puitis dan memakai diksi yang tak umum. Hasilnya sama, nggak nyaman dibaca. Sampai saya paham, orang-orang mengkerut bahkan malas melanjutkan membaca mungkin karena merasa tidak jelas, ini toh mau nulis apa? Mau ngasih pesan apa?

Jadi saya menyadari menulis itu menyampaikan pesan. Maka saya harus menyerderhanakan penyampaian.

Tidak perlu rumit-rumit. Pembaca harus bisa mencerna tulisan saya tanpa mengkerut dan tidak bosan. Lebih bagus kalau pembaca sampai tidak beranjak hingga selesai membaca. Demi apa? Demi pesannya sampai. Sebab saya baru menyadari tulisan-tulisan yang bagus menurut saya waktu itu, adalah mudah dicerna dan pesannya  dapat, meski materinya tidak sederhaha.

Nah, namanya semangat ada naik-turunnya, kalau saya sering turunnya, hehe, di masa itu, tentu saya tidak menulis, yang saya lakukan adalah membaca.  Semalas-malasnya membaca minimal membaca postingan-postingan orang yang bertebaran di FB.

Di sinilah saya baru menyadari hal yang lebih penting berkenaan tentang urgensi menulis. Hal serius dan amat serius mengapa saya harus menulis.

Saya membaca banyak tulisan yang  bagus, berbobot, penyampaian sederhana, enak dibaca, pesan yamg kuat tapi sayang, menjerumuskan. Sekali lagi menjerumuskan!!

Misalkan, bagaimana sebuah artikel seseorang dengan pendidikan tinggi (S2, S3) pada akhirnya menuntun mendukung miras, LGBT, membela pemimpin yang sudah terbukti tidak kompeten, menjatuhkan orang orang baik, juga ada pula penulis yang lihai menggiring kita meragukan kembali isi kitab suci, sejarah2 nabi, dan menolak ajaran2 suci!!

Hebatnya, tulisan mereka begitu samar tanpa memperlihatkan kebencian. Bahkan  pembaca tulisan itu yang notabene sudah memiliki keyakinan yang mendarah daging bisa bertanya-tanya lagi tentang keyakinanya. Tidak sedikit teman yang saya minta baca mengangguk-nggauk. Lalu berujar, "benar juga ya? Jangan-jangan cerita itu cuman dongeng? "Wah isi kitab suci sudah tidak telawan ya!"

Saya menelan ludah, merasa miris. Disaat bersaman juga merasa marah. Marah karena detik itu saya tak punya sedikit pengetahuan pun untuk membahtah. Saya merasa kecil dan bodoh. Untuk membela yang kita yakini bertahun-tahun saja saya tidak mampu.

Tidak sedikit Tulisan2 itu dilike ribuan dan dishare ratusan orang. Miris bukan??! Bayangkan bagaimana bila itu dibaca banyak orang yang sebelumnya sedikit punya keyakinan. Yang banyak saja bisa ragu. Di titik itu saya menyayangkan dua kelemahan, pertama sedikit pengtahuan(jarang baca) dan  tidak punya kemampuan menulis.

Tidak hanya itu, coba rasakan bagaimana kondisi negara sekarang? Untuk warga sipil biasa apa yang bisa kita lakukan untuk mengkritisi pemerintah? Demo saya kira tidak efektf malah mempersulit diri terlebih media maenstrem seolah tidak merestui perjuangan jalan. Mereka kehilangan objektifitas dalam jurnalisme. Lalu apakah saya diam? Tidak. Sekarang era digital, tulisanlah senjata ampuh.

Apa yang disampaikan kang Tendi pada kelas pertama menegaskan kembali keyakinan saya bahwa saya harus punya niat yang agung, lebih dari sekadar uang dan popularitas. Menulis bagi saya adalah cara saya melakukan perubahan. Melawan kesesatan yang merajalela merajai pikiran sekarang ini.

Menulis untuk menebarkan pesan positif, mengubah banyak orang menjadi lebih baik, melawan pesan sesat dan membahayakan. Pada akhirnya menulis fiksi atau non fiksi harus ada sedikitnya pesan baik untuk perubahan. Sekalipun membuat seseorang yang mulanya malas mandi jadi rajin. Biasa atau malas menyambut ramdhan jadi gembira, dll. Kalau belum mumpuni dengan hal-hal besar paling tidak kita dapat melakukan hal-hal kecil atau perubahan-perubahan kecil.
So, saya belajar menulis untuk perubahan!

Robi Suganda

Minggu, 22 Mei 2016

Momen Perubahan

Ada apa dengan Ramadhan?

Rasa-rasanya urusan "Ada apa dengan cinta?" udah kelar ya. Sekitar satu juta penduduk indonesia kira2 sudah memenuhi rasa penasarannya bagaimana kabar cinta ketika ditinggal selama 14 tahun, hehe

Nah, Sekarang yang lebih penting mari kita bertanya, Ada apa dengan Ramadhan? Inget lho, kedatangan Ramadhan tinggal menghitung hari.  Kalo yang terbayang cuman bubar bareng temen, bakal puasa seharian, susah payah bangun sahur, trawih, ongkos mudik, ongkos baju baru, nyiapin dana thr keluarga dll. Hemm... hati-hati takutnya bulan ini malah berlalu tanpa meninggalkan bekas positif sama sekali buat kita. 

   Sekali lagi berhati-hatilah, apalagi saat kita merasa biasa saja meyambut ramadhan. Bahkan ketika mendengar nama bulan agung itu, hati kita sedikitpun tidak berdesir. Seolah bulan itu sama seperti bulan lainya, celakanya, lebih berbahaya lagi malah merasa terbebani dengan datangnya bulan ini.

Bila itu terjadi, mungkin kita kurang mengenal dengan bulan suci itu. Ada apa sih dengan Ramadhan?

Sebelumnya, Ramadhan adalah bulan yang istimewa dibanding bulan lain.

Di bulan ini diturunkannya Kitab suci Al-Qur'an  dan kitab-kutab suci lainnya seperti suhuf ibrahim, Zabur, Taurat, Injil. Seolah menjelaskan awal perubahan peradaban manusia berangkat dari bulan ini.

 Di bulan ini tersedia sejumlah amal ibadah yang tidak ada di bulan lain.

Seperti berpuasa sebulan penuh, membayar Zakat fitrah, melakukan shalat malam berjamaah, Melakukan itikaf 10 hari terakhir.

Di bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Dalam buku tarhib dan amaliyah Ramadhan karya Muhammad Ridwan Yahya, bulan ini memiliki beberapa buah sebutan yang sekaligus menjadi hakikat ramadhan.

Seperti  :
Syahrut-Tarbiyah Wat-Ta'alim
#Ramadhan  mendidik kita sabar, disiplin, jujur dan peduli sosial.
Syahrul -Ibadah
#Di bukan ini ibadah kita cenderung meningkat.
Syahrul Qur'an
#Bulan diturunkannya AlQur'an
Syahrul Da'wah
#Di bulan ini Kegiatan dakwah cenderung meningkat
Syahrul Jama'ah Wal-Ukhuwah
# Di bulan ini banyak aktivitas yang menumbuhkan kembali ukhuwah islamiyah karena seringnya tatap muka. Dll
Syahrul Taubah
#Bulan ini momentum paling tepat bertaubat
Syahruz zakah Wal Infaq
#Khususnya melakukan zakat fitrah, Amalan yang hanya ada dalam Ramadhan.

Ada banyak hadiah, bonus, keistemewaan atau keutamaan yang disediakan di bulan ini.

Di bulan ini, setiap amalan di balas dengan pahala melimpah. Setiap doa besar kemungkinan atau berpeluang besar dikabulkan.

"Apabila Ramadhan tiba, maka pintu-pintu surga dibuka, Neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkenaan dengan hadis diatas, kata Syaikh Shaleh Al-Utsaimin, makna dari :
*Pintu surga di buka adalah banyak amal shaleh di dalamnya." "Bahwa peluang mendapat surga dibulan ini semakin terbuka"

*Neraka di tutup adalah karena sedikitnya kemaksiatan yang silakukan orang beriman dibulan ini." "Bahwa peluang membebaskan diri dari neraka sangat besar di bulan ini."

*Syetan dibelenggu
(Penjelasan hadis diambil dari buku tarhib dan amaliyah Ramadhan)

Melihat bonus, hadiah, keutaman atau keistemewaan yang begitu banyaknya,  sudah sepantasnya kita bergembira menyambut bulan ini.

Sama halnya seperti yang dicontohkan Rasullulah ketika menyambut rmadhan, beliau akan mengabarkan kepada para sahabatnya dengan ungkapam kabar gembira ;

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini Alloh SWT menurunkan rahmat-Nya, menghapuskan dosa dan mengabulkan do'a. Dia menyaksikan perlombaan kalian pada bulan ini dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya. Oleh karena itu perlihatkanlah kepada Alloh kebaikan pada diri kalian, karena sesungguhnya orang yang celaka itu ialah orang yang tidak mendapatkan rahmat di bulan ini."

Nah, bila rasa gembira atau rindu akan hadirnya bulan agung ini sudah muncul, Berdoalah! Agar kamu berkesempatan bertemu bulan yang datang setahun sekali ini. Ngga seperti cinta yang demi rangga harus nunggu 14 tahun(hehe). Ingat juga, tidak semua orang diberi kesempatan berjumpa Ramadhan, tak jarang detik-detik menjelang ramadhan atau jauh-jauh hari sebelumnya sanak saudara, teman atau tetangga kita sudah dipanggil duluan ke hadapanNya.
  
"Ya Alloh berkahi kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami ke bulan ramadhan."

Jangan lupa lakukan persiapan fisik, hati dan ilmu. Agar satu bulan nanti betul-betul bisa dioptimalkan. Kita bukan tergolong orang yang menyia-nyiakan banyak bonus yang melimpah di depan mata.

Rasulullah pun melakukan persiapan.   Pada bulan syaban Rasululah melakukan puasa sunnah lebih banyak dibanding bulan yang lain.

Terakhir, ingat  Ramadhan itu momen latihan dan perubahan. Jadi ukuran keberhasilannya bukan ketika kamu berhasil melakukan banyak hal di bulan ini saja. Tapi 11 bulan berikutnya. Moga kelak sedikit banyak bekas bekas Ramadhan membekas hingga sebelas bulan berikutnya. Membuat kita menjadi benar benar pribadi takwa. Amin..

Rabu, 18 November 2015

Jeruji Kaca

Saya membenci bosan sama seperti membenci malas. Saat merasakan bosan seolah jiwa saya terseret dalam sebuah penjara kaca. Mendekam di sana. Hanya mampu bercermin dan itulah jenis siksaannya. Setiap saat hanya melihat wajahmu, tangan, kaki atau tubuhmu. Berhari-hari dari membuka mata dan memejamkannya lagi, mau tidak mau hal minimal yang dilakukan yaitu melihat bayanganmu dalam cermin. Bosan, bukan? Membayangkannya saja sudah mengerikan.

Maka apa yang di harapkan saat itu? Aku mengharapkan dapat memecahkan kaca tetsebut. Atau seseotang dari luar tiba-tiba menggantamkan palu. Kaca retak. Dan beberapa detik kemudia pecah lantas aku keluar. Bebas.

Bosan ialah tentang rutinitas dan ketidakbetdayaan. Sekat-sekat kaca tak terlihat sering tidak disadari membatasi. Kebosanan itu merenggut kebahagiaan.

Maka lakukan sesuatu, untuk menghancurkan penghalang itu. Lakukan dobrakan. Lakukan hal yang dulu tidak berani kamu lakukan. Atau yang sempat tertunda. Atau kamu lakukan setengah-setengah. Bisa jadi justru itulah senjatamu (baca :passion)selama ini yang selama ini tanpa sadar kamu cari untuk menghancurka jeruji sel mu.

Atau bila kamu tidak bisa melakukannya sendiri, saat ini. Carilah seseorang yang bisa melakukannya untukmu. Menepuk baahumu. Menyemangatimu. Menarikmu keluar dari zina nyaman. Mengenalkanmu dmbagaimana indahnya dunia ktika kau berhasil menjalaninya dengan sempurna. Carilah seseorang dengN pengalaman menghancirkan kaca tersebut. Karena dialah yang paling bisa menghancurkan kacamu.

Sabtu, 26 September 2015

Kucing Sialan!


Prompt #89 : Kucing Sialan!


Istriku sedang ada tugas ke daerah lagi dan aku akan kesepian lagi sebulan ke depan. Malang bagiku jadi lelaki rumah tangga. Sialnya, aku ini lelaki yang gampang tergoda jika tidak ada kegiatan sepanjang hari. Biasanya aku mengunjungi Marni. Mantan lama yang tidak jarang juga ditinggal suaminya ke luar kota.  Tapi kini tampaknya mustahil. Apalagi sejak pertama kali rahasiaku bocor, entah bagaimana, Istriku tahu perselingkuhanku. Barangkali gosip Ibu-Ibu komplek mengingat jarak bertemu begitu dekat. Maka ia mulai mengawasiku.

Namun, pernah sekali waktu aku nekat. Melihat kondisi aman. Mungkin ia terburu-buru hingga lupa.  Seperti biasa setelah buat janji, sepeninggal istriku, esoknya aku ke rumah Marni. Membayar rindu. Perumahannya di sebrang perumahanku. Sialnya belum beberapa langkah kaki meninggalkan rumah. HP-ku berbunyi. SMS masuk.

"Kan sudah kubilang, urus rumah! Jangan coba-coba lagi bertemu mantanmu itu!"

Buluk kudukku berdiri. Kukira dia lupa. Ternyata disembunyikannya. Ampun. Dari situ pengawasanya bertambah, selain pintu depan (satu-satunya akses keluar masuk rumah) selalu dalam jarak pandang, suaraku harus terdengar. Kalau-kalau aku tengah di dapur atau di kamar mandi atau di tempat di luar jangkauan pandangnya.

Kejemuan melanda. Mencuci piring. Mengepel. Menyetrika. Semua kulakukan sambil bersiul. Oh...  malangnya menjadi bapak rumah tangga. Benar-benar bosan. Aku harus mencari akal.

Tiba-tiba jendela pintu dapur yang terpasang permanen mencuri perhatianku. Kunyalakan keran air  untuk menutupi suara kaca yang akan kupecahkan. Berhasil. Kenapa tidak terpikirkan dari dulu?

Sekarang aku menghirup udara bebas. Di jalan aku tetap bersiul. Kali ini langkahku lebih ringan ke rumah Marni.

Tiba-tiba telepon berdering. Aku terperanjat. Dari istriku? Bagaimana bisa?
"Kamu berani ketemu Marni lagi, Ya?"
Aku tergugu.

"Ga bisa ngomong, ya? Itu kucing dari dapur sedang bawa mulutmu, kamu kira aku terkecoh dengan siulanmu, ya?! Pulang!!"

Ampun. Kucing sialan. Sepertinya sebelah mata yang ditinggalkan istriku di ruang tamu melihat kucing entah dari mana membawa mulutku dari dapur. Sial!


#Ikut Meramaikan
#mudahan ngerti



Jumat, 18 September 2015

Gadis Penguyah Hujan


Oleh Robi Suganda


Sumber Gambar : riskandani93.wordpress.com

Apa yang ada dalam benaknya ? 

Setiap kali hujan menyapa bumi, 

di halaman komplek ruko, 

kudapati seorang gadis tanpa malu sedikit pun 

selalu melakukan hal aneh.

Bermula ketika hari kedua setibaku di ruko milik paman. Ayah memaksaku menemani paman saat libur kuliah. Ketika hujan turun, saat hendak menutup jendela lantai atas, Aku terperangah. Tampak seorang gadis, memejamkan mata sambil membuka tangannya lebar-lebar, kepalanya menengadah ke langit. Seolah menyambut rinai-rinai hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia tersenyum lantas setengah berlari mengitari halaman. Ia seperti kegirangan menyambut hujan.

"Gadis bodoh, paling habis ditembak lelaki, " lirihku lantas menutup jendela.

Saat makan malam, kutanyakan ikhwal gadis itu. Paman menggeleng, lalu tiba-tiba berujar,

"Setahu paman, kekasihnya pernah kecelakaan dekat sini." Kutangkap raut aneh dari wajahnya. Aku terpekur, gadis yang malang, batinku. 

Tidak hanya sekali, esok, lusa bahkan dalam seminggu tiap kali hujan turun, ia melakukan hal yang sama. Ini jelas bukan tentang cinta. Dan entah mengapa perlahan aku jadi menikmati tingkahnya. Hingga tiap datangnya hujan, sesuatu dalam hati mendorongku untuk mengintipnya lewat jendela.

***

Malam ini langit cerah. kulihat ia tengah duduk seolah menanti kedatangan hujan. Setelah mengumpulkan keberanian, didesak oleh rasa ingin tahu yang tak tertahankan, kucoba menghampirinya.

"Hujan itu kenangan, aku hanya menikmatinya," Ungkapnya menjawab rasa ingin tahuku. Ia menjawab santai sambil menggoyang-goyangkaan kakinya.

"Karena itu kamu selalu menari-nari kala hujan tiba?" Ia bergeming, tersenyum memandangi langit. Lalu tanpa melihatku, ia membalas,

"Mungkin, Kak. suatu saat bergeraklah bersamaku di bawah rinai-rinai hujan ini. Kakak akan mengerti," gadis itu lantas menatapku, seolah ia berseru dengan nada menantang, Berani?

"Ogah!" aku melengos.

***

Hujan tiba. Angin melalui celah jendela membisikiku, lantas seperti biasa segera diam-diam kuintip gadis itu melalui jendela. Hujan mereda, tapi tetap tak nampak batang hidungnya. Begitupun esok dan lusa. Berasa kehilangan. Kecemasan menggelayutiku. Kuminta alamatnya pada paman. Ia terdiam dan menyodorkan selembar kertas berisi alamat. Aku mengetuk pintu rumahnya, yang ternyata tidak jauh.

"Fais? Silahkan masuk." Pria setengah baya itu langsung menuntunku kekamar. Dahiku berkerut. Ada yang mengganjal. Kudapati gadis itu terbaring lemah dengan selimut menyelimuti hampir seluruh tubuh selain kepala.

"Ternyata kamu sakit."

"Akibat hujan sepertinya."

"Siapa suruh bermain hujan."

"Kamu."

"Maksudmu?"

Ia diam lalu menunjuk sebuah foto yang bertengger di dinding belakangku. Aku terkejut. Tampak gambar kami berdua. Hah. Bagaimana bisa. Beribu tanda tanya hinggap di kepala. Seolah membaca raut penuh tanya, Ia berkata,

"Kamu hilang ingatan Fais, karena kecelakaan setahun lalu." Langit-langit terasa runtuh. Pikiranku kacau. Perasaan campur aduk. Mendadak aku pamit tanpa berkata apapun.

Itulah mengapa tadi ayahnya tahu namaku, padahal tak pernah sekalipun kuberitahu gadis itu?Kecelakaan itukah yang dimaksud paman dulu? Apakah ia menari demi membuka kembali kenangan? Inikah mengapa ayah memaksaku kesini? Pertanyaan demi pertanyaan menghujani kepalaku. Menyesakkan dada. Aku berlari entah karena apa. Semuanya tampak kabur. Benarkah semua ini?

Hujan menyapa. Mendadak aku berhenti. Membiarkan bulir-bulirnya menyentuh pori-pori kulitku. Mataku terpejam. Menikmati. Lantas perlahan pikiranku melayang. Tampak diriku dan gadis itu berlari-lari di bawah hujan. Begitu riang. Si gadis tertawa lebar. Satu demi satu kenangan itu hadir. Apakah gadis penyuka hujan itu adalah kekasihku?

-End-

Kerinduan Robert

Oleh Robi Suganda


"Aku mencintaimu."

Robert tersenyum. Bulir-bulir bening berhamburan dari kelopaknya. Ia terharu.

***

Berpuluh-puluh tahun, sejak usia 25, ia habiskan setiap detiknya dalam ruangan bawah tanah. Ruangan rahasia yang tersembunyi dalam rumah besarnya. Sejak kecil, kesepian adalah sahabat setia Robert. Orang tuanya selalu sibuk berdagang keliling eropa. Mereka memercayai Robert pada pengasuh. Pengasuh yang sama sekali tak peduli dan tidak menyenangkan.Kehadiran pengasuh bukan mengobati kesepiannya, malah memperlebar ruang kesepian di hati robert. Ia bahkan lupa hingga tak mengenal apa itu cinta, perhatian atau kasih sayang.

Saat SMA, Robert tertarik dengan elektro. Ia senang merakit aplikasi-aplikasi sederhana. Rasa ingin tahu yang besar dan demi mengobati kesepiannya yang berlarut-larut, Robert menghabiskan waktunya membaca dan bereksperimen hingga larut malam di lab sekolah.

Tak di sangka, Robert mampu melampui teman bahkan guru-gurunya. Mereka berdecak tak percaya melihat kejeniusan Robert memecahkan hal rumit. Robert mampu menguasai bahasa Assembler, bahasa pemrogaman tingkat tinggi. Menguasai Mikrokontroller dan PLC, otak dari sistim otomatisasi. Ia pun mengenal dan menguasai penggunaan dan prinsip kerja segala perangkat keras bahkan yang belum ada di sekolahnya. Robert penyendiri, begitu julukannya dulu, berubah menjadi Robert jenius.

Suatu hari, beberapa mitra bisnis serta kolega-kolega dari mancanegara datang ke rumah mencari orang tua Robert. Mereka lalu memaksa menggeledah isi rumah. Namun mereka tak menemukan seorangpun selain pengasuh. Sebagian dari mereka melapor pada polisi. Kota gempar dengan kehilangan sepasang pedagang yang punya pengaruh dan disegani di kota.

Sedangkan Robert hanya menyendiri di ruang rahasianya. Seolah tidak peduli dengan kegemparan tersebut. Sementara Pengasuhnya, mengetahui ketidakjelasan keberadaan orang tua Robert dari polisi setelah berbulan-bulan, memutuskan berhenti, meninggalkann robert dan rumah megahnya. Kini, di rumah besar yang sekarang tampak kusam itu, hanya ditempati Robert seorang diri, dan ia selalu menempati ruang rahasianya. Ruangan bawah tanah. Bereksperimen hingga bertahun-tahun. Setelah orang tua Robert menghilang, pengasuhnya berhenti, Robert berhenti sekolah.

Sesekali Robert keluar rumah untuk membeli makan. Di jalan orang-orang yang melihatnya, menyangka Robert orang gila. Sebab pakaiannya lusuh. Rambutnya tergerai panjang, kasar, dan tak beraturan. kumisnya lebat begitupun jenggotnya. Sedangkan Kabar menghilangnya orang tua Robert yang sempat heboh meredup. Semua orang sudah melupakannya.

Robert tak henti menatap layar monitor yang menjejal. Kabel-kabel berseliweran di ujung dinding. Terdapat banyak perangkat-perangkat keras melingkupi ruangan seperti Motor servo dan perangkat Pnumatik dengan nomor serial terbaru di jamannya . Pencahayaan ruangan redup.

Sesekali ia merubah-rubah program, lalu meng-klik tombol enter pada keybord, lantas tangan dari besi serupa jari manusia bergerak seolah ingin menggeggam. Robert tersenyum. Lantas ia kembali mengutak-atik program. Terdengar suara menyebutkan sesuatu. Lagi -lagi Robert tersenyum. Lalu ia menyambung-nyambungkan beberapa komponen. Menyolder. Mengelas. Begitu seterusnya. Hingga 25 tahun. Sementara di atas meja besar di belakang monitor komputernya tergeletak dua orang manusia. Yang sudah tak berbentuk. Dengan bau yang sudah akrab di hidung robert.

***

"Makanlah robert, kamu lapar kan? Biar ibu masakan makanan untukmu."

"Robert, sini ayah ajari kamu bermain bola."

"Robert, buku cerita mana yang kamu suka? Biar ibu bacakan buatmu."

Tangis Robert menderas. Satu persatu ia tatap wajah di depannya. Tangannya yang keriput pelan-pelan membelai mereka. Dan tangan orang-orang didepannya serta merta membelai wajah keriput robert. Ada kabel-kabel panjang, warna-warni yang menjulur dan menancap pada tangan tersebut. Juga terhubung di punggung dan kaki mereka. Kabel tersebut berasal dari CPU besar yang terpusat pada CPU kecil, tempat Robert menulis program.

"Aku mencintaimu Robert." Kini mereka bersamaan mengucapkannya. Robert tak kuasa menahan tangis untuk kesekian kalinya. Tubuhnya berguncang. Kembali ia tatap wajah Ibu dan Ayahnya. Tubuh mereka tak utuh lagi. Menyatu dengan beberapa perangkat keras. Hanya wajah mereka yang utuh. Sedangkan dalam kepalanya tertancap sekelumit rangkaian elektronik.

Ruang kesepian di hati Robert mengecil. Rasa kesepian itu sejenak terobati. Kini Robert bisa bersama orang tuanya lagi. Mendengar suara yang dirindukannya sejak lama. Yang pernah ia dengar ketika Robert masih kecil, saat kehidupannya masih sederhana. Saat orang tuanya masih memberi cinta untuknya.

Tak ada yang tahu, suatu malam, orang tua Robert mencari Robert ke seluru penjuru rumah. Tak sengaja ia menemukan ruang bawah tanah di bawah kasur. Setelah turun, Ia lihat anaknya tengah mengetik tanpa menyadari kehadiran mereka. Tak sengaja, sewaktu mereka menghampirinya. Mereka menginjak kabel yang sudah mengelupas. Seketika jutaan volt menyambar tubuh mereka, lantas saat itu juga mereka meregang nyawa.

Menyadari itu, Robert tak henti menangis. Ia menyesal sempat menunda memperbaiki kabel itu. Ia tatap wajah-wajah orang tuanya dan berjanji akan membuat mereka kembali seperti semula.

Rabu, 16 September 2015

Novelku

                                                         

Prompt #88 - Novelku

Oleh Robi Suganda

                    


“Selalu mengambil diam-diam uangku, apa kau tidak jera?!!”
“Ini sudah keberapa kalinya?!”

Ibu meringkuk  di sisi meja.  Merintih dan terisak-isak. Sekujur tubuhnya nyeri akibat tangan Ayah yang melayang tanpa kendali. Tak ada sepatah kata pembelaanpun terlontar dari bibirnya yang bergetar ditengah isak. Kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam Ayah. Urat-urat menyembul dari leher Ayah.

Pemandangan yang menjemukan ini entah sudah yang keberapa kali. Di tengah kegaduhan, aku hanya bergeming sambil menatap layar laptop punya Ayah. Tak kuasa melihat perlakuannya terhadap Ibu, sambil menahan pilu, sekuat tenaga mencoba konsentrasi mengerjakan tugasku.Tugas yang begitu penting.  Sebagian guru menyebutku jenius. Kata mereka, cara bertuturku melebihi usia anak kelas 5 SD pada umumnya. Merekapun terpukau membaca karangan ceritaku. “Kamu jenius, Robi! Kamu berbakat.” Ujarnya.

Suara Ibu melengking, membuyarkan konsetrasi, mengoyak hati dan menambah rasa pilu. Ayah berhentilah! Andai Ayah tahu enam bulan terakhir ini aku tengah menyusun novel. Seorang editor dari penerbit  mayor tidak sengaja melihat tulisanku di mading sekolah saat  diundang mengisi seminar guru.  Ia lantas penasaran membaca tulisan yang lain. Lantas mengajak bertemu, bertanya-tanya lalu menantang membuat novel.

“Dari gaya bahasa dan keunikan cerita-cerita pendek Adek, Adek itu berbakat  buat novel. Kalo Adek mau, Adek buat novel dalam enam bulan. Nanti kakak bimbing dan terbitkan kalo bagus.”
Aku girang bukan main. “Untuk pemula, Adek buat cerita dari penglaman sehari-hari saja.” Begitu katanya pertama kali membimbingku. Susah payah tiap malam merampungkan novel di tengah kegaduhan yang berulang  dan menyesakkan dada mendengar rintihan Ibu. Maafkan aku, Bu.
Kututup telingaku dengan earphone demi mengedit Novelku untuk yang terakhir kali. Rintihan Ibu menambah terus rasa bersalahku. Ayah hentikanlah.

Novel rampung. Kubuka email. Menuliskan alamat email Kakak editor. Menuliskan pengantar. Melampirkan file. Lalu menekan send. Oh ya sebelum itu kutulis judul novelku pada subjek email. “Anak yang mencuri dalam rumahnya.”


16 September 2015
(293 kata)