Bunyi
Klakson Dan Laju Perubahan
Oleh
Robi Suganda
Jalanan
tidak pernah sepi oleh kendaraan, apalagi hari sabtu, jalanan makin padat oleh
para pendatang ibu kota. maklum jarak bandung-jakarta amat dekat. Mudah dilalui
dengan cepat menggunakan kendaraan pribadi. Diantara kendaraan yang berhamburan
di jalan, saya dengan kuda besi kesayangan menyelip disana, menjalankan
rutinitas harian, berangkat kerja. Suatu ketika saat hendak berbelok memasuki
jalan didepan saya, tiba tiba bunyi
klakson yang amat besar membuat saya tersentak, hitungan detik saya
belokan motor saya kearah berlawanan dari niat saya semula. Sebab ternyata
sebuah truk besar tepat beberapa meter dibelakang saya hendak melaju lurus sehingga
bila sebelumnya saya jadi berbelok sepertinya kecepatannya tak sanggup
mengimbangi laju kendaraan milik saya hingga beresiko terjadinya kecelakan,
tentu dampak paling fatal akan dialami saya sebagai pengendara kuda besi.
Efek
dari bunyi klakson yang nyaring itu masih terasa, masih terasar degup jantung
berkali kali memukul mukul dada, pada
beberapa meter berikutnya. Tak sadar keringat sudah mengalir banyak pada
pelipis, meki sesaat namun amat was was saya dibuatnya.
Pernahkan sahabat mengalami hal
yang sama? Kejadian diatas tidak jarang saya alami. Namun tidak melulu dari
truk. Dari beragam kendaraan. Satu kejadian tersebut sengaja saya tuliskan
karena ada pelajaran tersendiri buat saya setelah mengalaminya, seandainya truk
tersebut tidak membunyikan klakson, tentu skenario paling buruk saya sudah
berada diatas ranjang rumah sakit. Lebih parah lagi bila sekujur tubuh sudah
tertutup kain putih, Na’udzubillah. Lalu
saya merenung bahwa semakin besar kendaraaan besar pula bunyi klaksonnya,
bayangkan bila suara klakson truk barusan sebesar bunyi lonceng speda, pastinya
suaranya akan tertutupi suara kendaaraan lain, Maka saya akan mengalami
skenario terburuk tersebut.
Bukankah hidup ini sama halnya
seperti berada dijalanan, sedangkan bunyi klakson bisa dianalogikan seperti
teguran atau nasihat dari seseorang. Ada bermacam bunyi klakson yang kita
dengar sama halnya dengan banyak jenis nasihat atau teguran yang kita terima, Dalam
situasi yang amat darurat tidak jarang
kita mendapatkan bentakan keras atau malah kata kata tajam dari seseorang, dan posisi kita adalah posisi yang tidak kita
sadari amat berbahaya. Misalnya saat hendak menginjak beling, orang dari jauh
tentu berteriak “AWAS!!!”,lantas setelah spontan menghindar kita mengelus
ngelus dada. Sembari berhamdalah. Ada
pula situasi saat kita mendapat masukan atau nasihat namun kita belum berada
dikondisi tersebut “nanti kalo bawa motor jangan ngebut ngebu yaa” cenderung
disampaikan pelan. Tak sering juga ada yang menyampaikan dengan nada atau
pilihan kata yang tak enak,”kamu kok bau banget sich, kamu kok teledor sich,
dll” dan macam lainya.
Nah, dari beragam jenis masukan
tersebut ada pula bermacam macam responnya. Mari kembali kejalanan, orang yang
mendapat klakson memiliki respon yang berbeda beda juga, ada yang marah sampai
memaki maki, ada yang berucap syukur dan terima kasih, ada yang cuek dan tak
bergeming, Ada pula yang balik meng
klakson sebagai bentuk kejengkelan dan macam lainnya. Begitu juga bukankah saat
diberi masukan mcam macam respon kita. Ada
yang marah dan memaki maki, ada yang tak mau kalah malah balik memberi masukan
dengan argumennya, ada yang cuek tidak menggubris sama sekali, dan ada pula
yang bersyukur lalu mengucapkan terima kasih.
Pilihan ada di tangan kita kawan,
apapun sikap kita , apapun respon kita , tetap adalah pilihan kita. Kita tak
pernah bisa lari dari masukan, nasihat atau teguran, ia selalu menjadi bagian
dalam kehidupan. Hanya saja saat kita bersikap salah, resiko hampir sering bukan
hanya ditanggung kita bisa juga orang orang yang dekat dengan kita. Saat memilih
cuek tehadapa bunyi klakson dijalan, maka selain saya atau anda sebagai pengendara,
orang yang kita bonceng ikut celaka
bukan?
ini baru bagus, oke gw bakal jadi klakson perubahan buat lo.
BalasHapusokee..telinga gua selalu terbuka lebar buat denger klakson dari lo :)
BalasHapus