Rabu, 02 Oktober 2013

Bunyi Klakson Dan Laju Perubahan

Bunyi Klakson Dan Laju Perubahan
Oleh Robi Suganda

Jalanan tidak pernah sepi oleh kendaraan, apalagi hari sabtu, jalanan makin padat oleh para pendatang ibu kota. maklum jarak bandung-jakarta amat dekat. Mudah dilalui dengan cepat menggunakan kendaraan pribadi. Diantara kendaraan yang berhamburan di jalan, saya dengan kuda besi kesayangan menyelip disana, menjalankan rutinitas harian, berangkat kerja. Suatu ketika saat hendak berbelok memasuki jalan didepan saya, tiba tiba bunyi  klakson yang amat besar membuat saya tersentak, hitungan detik saya belokan motor saya kearah berlawanan dari niat saya semula. Sebab ternyata sebuah truk besar tepat beberapa meter dibelakang saya hendak melaju lurus sehingga bila sebelumnya saya jadi berbelok sepertinya kecepatannya tak sanggup mengimbangi laju kendaraan milik saya hingga beresiko terjadinya kecelakan, tentu dampak paling fatal akan dialami saya sebagai pengendara kuda besi.
Efek dari bunyi klakson yang nyaring itu masih terasa, masih terasar degup jantung berkali kali memukul mukul dada,  pada beberapa meter berikutnya. Tak sadar keringat sudah mengalir banyak pada pelipis, meki sesaat namun amat was was saya dibuatnya.

Pernahkan sahabat mengalami hal yang sama? Kejadian diatas tidak jarang saya alami. Namun tidak melulu dari truk. Dari beragam kendaraan. Satu kejadian tersebut sengaja saya tuliskan karena ada pelajaran tersendiri buat saya setelah mengalaminya, seandainya truk tersebut tidak membunyikan klakson, tentu skenario paling buruk saya sudah berada diatas ranjang rumah sakit. Lebih parah lagi bila sekujur tubuh sudah tertutup kain putih, Na’udzubillah. Lalu saya merenung bahwa semakin besar kendaraaan besar pula bunyi klaksonnya, bayangkan bila suara klakson truk barusan sebesar bunyi lonceng speda, pastinya suaranya akan tertutupi suara kendaaraan lain, Maka saya akan mengalami skenario terburuk tersebut.

Bukankah hidup ini sama halnya seperti berada dijalanan, sedangkan bunyi klakson bisa dianalogikan seperti teguran atau nasihat dari seseorang. Ada bermacam bunyi klakson yang kita dengar sama halnya dengan banyak jenis nasihat atau teguran yang kita terima, Dalam situasi yang amat darurat  tidak jarang kita mendapatkan bentakan keras atau malah kata kata tajam dari seseorang,  dan posisi kita adalah posisi yang tidak kita sadari amat berbahaya. Misalnya saat hendak menginjak beling, orang dari jauh tentu berteriak “AWAS!!!”,lantas setelah spontan menghindar kita mengelus ngelus dada. Sembari berhamdalah.  Ada pula situasi saat kita mendapat masukan atau nasihat namun kita belum berada dikondisi tersebut “nanti kalo bawa motor jangan ngebut ngebu yaa” cenderung disampaikan pelan. Tak sering juga ada yang menyampaikan dengan nada atau pilihan kata yang tak enak,”kamu kok bau banget sich, kamu kok teledor sich, dll” dan macam lainya.

Nah, dari beragam jenis masukan tersebut ada pula bermacam macam responnya. Mari kembali kejalanan, orang yang mendapat klakson memiliki respon yang berbeda beda juga, ada yang marah sampai memaki maki, ada yang berucap syukur dan terima kasih, ada yang cuek dan tak bergeming,  Ada pula yang balik meng klakson sebagai bentuk kejengkelan dan macam lainnya. Begitu juga bukankah saat diberi masukan  mcam macam respon kita. Ada yang marah dan memaki maki, ada yang tak mau kalah malah balik memberi masukan dengan argumennya, ada yang cuek tidak menggubris sama sekali, dan ada pula yang bersyukur lalu mengucapkan terima kasih.

Pilihan ada di tangan kita kawan, apapun sikap kita , apapun respon kita , tetap adalah pilihan kita. Kita tak pernah bisa lari dari masukan, nasihat atau teguran, ia selalu menjadi bagian dalam kehidupan. Hanya saja saat kita bersikap salah, resiko hampir sering bukan hanya ditanggung kita bisa juga orang orang yang dekat dengan kita. Saat memilih cuek tehadapa bunyi klakson dijalan, maka selain saya atau anda sebagai pengendara,  orang yang kita bonceng ikut celaka bukan?

So, bersyukurlah pada situasi apapun saat mendapat masukan seperti apapun bentuk masukan tersebut. Sebab sikap yang benar bisa jadi merupakan titik balik kehidupan kita, saat tak jadi melaju lurus, dan memlih melaju belok boleh jadi itulah laju perubahan nasib kearah yang lebih baik sehingga selamat dari celaka.  Maka, jangan abaikan segala macam bunyi klakson, berhenti cuek,  memaki atau balik menggurui, berterima kasihlah lah, bersyukurlah pada Yang Maha kuasa akan rahmatnya , kemudian kembali melaju menempuh laju perubahan!









2 komentar:

  1. ini baru bagus, oke gw bakal jadi klakson perubahan buat lo.

    BalasHapus
  2. okee..telinga gua selalu terbuka lebar buat denger klakson dari lo :)

    BalasHapus