Rabu, 16 September 2015

Novelku

                                                         

Prompt #88 - Novelku

Oleh Robi Suganda

                    


“Selalu mengambil diam-diam uangku, apa kau tidak jera?!!”
“Ini sudah keberapa kalinya?!”

Ibu meringkuk  di sisi meja.  Merintih dan terisak-isak. Sekujur tubuhnya nyeri akibat tangan Ayah yang melayang tanpa kendali. Tak ada sepatah kata pembelaanpun terlontar dari bibirnya yang bergetar ditengah isak. Kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam Ayah. Urat-urat menyembul dari leher Ayah.

Pemandangan yang menjemukan ini entah sudah yang keberapa kali. Di tengah kegaduhan, aku hanya bergeming sambil menatap layar laptop punya Ayah. Tak kuasa melihat perlakuannya terhadap Ibu, sambil menahan pilu, sekuat tenaga mencoba konsentrasi mengerjakan tugasku.Tugas yang begitu penting.  Sebagian guru menyebutku jenius. Kata mereka, cara bertuturku melebihi usia anak kelas 5 SD pada umumnya. Merekapun terpukau membaca karangan ceritaku. “Kamu jenius, Robi! Kamu berbakat.” Ujarnya.

Suara Ibu melengking, membuyarkan konsetrasi, mengoyak hati dan menambah rasa pilu. Ayah berhentilah! Andai Ayah tahu enam bulan terakhir ini aku tengah menyusun novel. Seorang editor dari penerbit  mayor tidak sengaja melihat tulisanku di mading sekolah saat  diundang mengisi seminar guru.  Ia lantas penasaran membaca tulisan yang lain. Lantas mengajak bertemu, bertanya-tanya lalu menantang membuat novel.

“Dari gaya bahasa dan keunikan cerita-cerita pendek Adek, Adek itu berbakat  buat novel. Kalo Adek mau, Adek buat novel dalam enam bulan. Nanti kakak bimbing dan terbitkan kalo bagus.”
Aku girang bukan main. “Untuk pemula, Adek buat cerita dari penglaman sehari-hari saja.” Begitu katanya pertama kali membimbingku. Susah payah tiap malam merampungkan novel di tengah kegaduhan yang berulang  dan menyesakkan dada mendengar rintihan Ibu. Maafkan aku, Bu.
Kututup telingaku dengan earphone demi mengedit Novelku untuk yang terakhir kali. Rintihan Ibu menambah terus rasa bersalahku. Ayah hentikanlah.

Novel rampung. Kubuka email. Menuliskan alamat email Kakak editor. Menuliskan pengantar. Melampirkan file. Lalu menekan send. Oh ya sebelum itu kutulis judul novelku pada subjek email. “Anak yang mencuri dalam rumahnya.”


16 September 2015
(293 kata)


4 komentar:

  1. Perhatikan lagi cara penulisan partikel 'pun' pada kata 'pembelaanpun' dan penggunaan kata depan 'ke' pada kata 'keberapa', yah. :)

    Perihal isi cerita, aku merasa ada 'jarak' lebar antara bahasa gambar dengan terjemahan kata. Nggak nyambung emosinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, EYD nya akan lbih diperhatikan. kalo dari gambar itu di ambil dari video yang menanyangkan pertengkaran orang tua sementara anak memandang ke depan di depan laptopnya. hehe.
      makasih sudah berkunjung dan krisannya.. salam kenal :)

      Hapus