Prompt #88 - Novelku
Oleh Robi Suganda
“Selalu mengambil diam-diam uangku, apa kau tidak jera?!!”
“Ini sudah keberapa kalinya?!”
Ibu meringkuk di sisi
meja. Merintih dan terisak-isak. Sekujur
tubuhnya nyeri akibat tangan Ayah yang melayang tanpa kendali. Tak ada sepatah
kata pembelaanpun terlontar dari bibirnya yang bergetar ditengah isak.
Kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam Ayah. Urat-urat menyembul dari leher
Ayah.
Pemandangan yang menjemukan ini entah sudah yang keberapa
kali. Di tengah kegaduhan, aku hanya bergeming sambil menatap layar laptop
punya Ayah. Tak kuasa melihat perlakuannya terhadap Ibu, sambil menahan pilu, sekuat tenaga mencoba konsentrasi mengerjakan tugasku.Tugas yang begitu
penting. Sebagian guru menyebutku jenius.
Kata mereka, cara bertuturku melebihi usia anak kelas 5 SD pada umumnya. Merekapun terpukau membaca karangan ceritaku. “Kamu jenius, Robi! Kamu berbakat.”
Ujarnya.
Suara Ibu melengking, membuyarkan konsetrasi, mengoyak
hati dan menambah rasa pilu. Ayah berhentilah! Andai Ayah tahu
enam bulan terakhir ini aku tengah menyusun novel. Seorang editor dari
penerbit mayor tidak sengaja melihat
tulisanku di mading sekolah saat
diundang mengisi seminar guru. Ia
lantas penasaran membaca tulisan yang lain. Lantas mengajak bertemu, bertanya-tanya
lalu menantang membuat novel.
“Dari gaya bahasa dan keunikan cerita-cerita pendek Adek, Adek
itu berbakat buat novel. Kalo Adek mau, Adek buat novel
dalam enam bulan. Nanti kakak bimbing dan terbitkan kalo bagus.”
Aku girang bukan main. “Untuk pemula, Adek buat cerita dari
penglaman sehari-hari saja.” Begitu katanya pertama kali membimbingku. Susah
payah tiap malam merampungkan novel di tengah kegaduhan yang berulang dan menyesakkan dada mendengar rintihan Ibu. Maafkan
aku, Bu.
Kututup telingaku dengan earphone
demi mengedit Novelku untuk yang terakhir kali. Rintihan Ibu menambah
terus rasa bersalahku. Ayah hentikanlah.
Novel rampung. Kubuka email. Menuliskan alamat email Kakak
editor. Menuliskan pengantar. Melampirkan file.
Lalu menekan send. Oh ya sebelum itu
kutulis judul novelku pada subjek email. “Anak yang mencuri dalam rumahnya.”
16 September 2015
(293 kata)
anak pinter keblinger -_-
BalasHapushaha..ada krisan mas?
BalasHapusPerhatikan lagi cara penulisan partikel 'pun' pada kata 'pembelaanpun' dan penggunaan kata depan 'ke' pada kata 'keberapa', yah. :)
BalasHapusPerihal isi cerita, aku merasa ada 'jarak' lebar antara bahasa gambar dengan terjemahan kata. Nggak nyambung emosinya.
iya mas, EYD nya akan lbih diperhatikan. kalo dari gambar itu di ambil dari video yang menanyangkan pertengkaran orang tua sementara anak memandang ke depan di depan laptopnya. hehe.
Hapusmakasih sudah berkunjung dan krisannya.. salam kenal :)