Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

DILEMA VAKSINASI


Delisa genap 2 tahun tanggal 2 Agustus kemarin. Belakangan ini hampir tiap 2 minggu diserang pilek atau batuk. Bulak balik lah kami ke dokter. Dan mau tidak mau delisha harus diberi antibiotik. Malah pernah antibiotiknya habis tapi pileknya belum sembuh. Ketemu dokter yang beda lalu beri lagi antibiotik.
Delisha anak yang aktif. Gampang meniru. Sedikit pemalu. Kurang lebih sama seperti anak pada umumnya. Di usianya sekarang, motoriknya lebih dominan. Apalagi kalau bertemu macam-macam permainan di daycarenya. Susah diajak pulang.
Nah, di usiamya dua tahun ini saya memutuskan mau memberinya vaksin. Keputusan ini tidak gampang. Dari dia lahir baru sekarang akhirmya saya memberanikan diri memvaksin delisha. Sebuah keputusan yang cukup sulit (agak lebay ya..hehe). Ada dua hal utama yang saya dapat dari berbagai sumber yang sebelumnya bikin saya ragu atau malah anti vaksin.
1. Halal haram
Dari beberapa sumber, media yang dipakai ketika pembuatan vaksin masih mengandung zat haram. Tapi ada yang bilang zat itu tidak terbawa kedalam vaksin saat vaksin sudah jadi. Kurang lebih seperti itu, saya tidak paham detilnya. Intinya penggunaan zat haram ini masih digunakan.
2. Kesehatan
Saya mendapatkan banyak cerita tentang ini, misalnya ada anak yang sudah di vaksin menjadi tidak seaktif sebelumnya. Cenderung pendiam. Dan anak yang tidak divaksin cenderung aktif, lincah dsb.
Ada juga kasus setelah divaksin polio malah terkena polio. Ada juga yang kejang kejang. Malah ada meninggal. Mendengar ini saya bukan ragu lagi tapi anti vaksin banget.hehe
Nah, seiring berjalan waktu, baik sengaja atau tidak sengaja, saya sering dapat info tentang ini, ada artikel yang bikin saya yakin untuk tidak vaksin. Ada yang buat saya ragu, ada juga yang justru mendorong saya cepat-cepat vaksin. Akhirnya setelah baca sana sini, ikut seminar, dan membaca potingan -postingan salah seorang dokter. Saya memilih memvaksin. Alasannya?
Sewaktu seminar, ustad Aam menyampaikan, "sekalipun, misalnya memang haram, karena darurat jadi boleh". Di tambah begitu banyak ulama di dunia yang menghalalkannya. Ada yang mengharamkan tapi tidak lebih banyak dari yang membolehkan. Sementara beberapa orang yang giat mengharamkan, setahu saya tidak berkapasitas dalam berfatwa. latar belakangnya bukan pendidikan agama.
Adapun masalah dampak setelah divaksin, lebih banyak keluar bukan dari ahlinya, dokter. Tapi hanya cerita dari mulut-kemulut. Jarang ada artikel yang menceritakan secara ilmiah. Dan beberapa orang antivaksin yang rata-rata buku nya best seller bukan seorang dengan latar belakang medis. Ada ahli hukum. Enginer pesawat. Dll.Kalaupun dokter bukan dokter anak atau yang paham vaksinasi. Karena itu kadang argumennya gampang dibantah oleh orang kesehatan. Ditambah, ini yang kadang bikin saya miris, info-info yang berkembang dan menyuruh tidak vaksin bisa dibuktikan hoaxnya. Dan amat disayangkan berita tersebut keluar dari situs-situs islam yang saya suka.
Terakhir, dari koran, banyak berita, bahwa deerah-deerah di Indonesia yang seharusnya sudah bebas penyakit x. Belakangan muncul lagi. Dan tempat munculnya memang banyak yang tidak diberi vaksin.
Pertimbangan pertimbangan itu meyakinkan saya untuk memvaksin delisha. Ini bagian dari ikhtiar agar anak tumbuh dengab sehat. Mudah mudahan ke depan ada ahli vaksin yang profesional di bidangnya dan di sisi lain juga ahli agama. Sehingga bisa memberitahu orang bingung macam saya, yang ga ngerti dua-duanya hehe, mana yang terbaik. Syukur-syukur ada muslim taat yang berhasil bikin vaksin yang tidak ada pro kontra lagi dalam kehalalannya. mudah mudahan kelak delisha ambil bagian di bidang ini.hehe..aminn
Wassalam

Sabtu, 15 Agustus 2015

Buat anak jadi pd

Saya suka memanggil delisha kalo ada kucing. Saya dekatkan dia, saya belai kucingnya supaya dia ikut. Dan Ia sekarang berani dengan kucing. Ia pegang. Ia belai. Meski belaianya masih tampak kaku. Dilain waktu, tidak selembut sebelumnya. Kali ini ia hentakan kaki ke tanah sambil bilang, "hush..hush!" rupanya lagi meniru kita kalau lagi ngusir kucing.
Nah, berbeda sikapnya terhadap cicak, entah mengapa, mendadak ia ga mau tinggal sendiri di kamar. Kadang teriak, "ayah, takut, cicak...cicak...gendong".
Padahal lagi ga da cicak.
Mulanya saya heran sebab dulu pernah saya kasih lihat cicak. Tapi biasa saja. Dia tidak tampak takut.
Baru lama-lama mengerti, saya ingat, pernah ketika menangis, saya bilang ada cicak di langit-langit kamar. Dia terdiam. Sebenarnya maksud saya hanya mau mendiamkan, tapi nada yg di tangkap delisaha sepertinya seolah cicak itu binatang mengerikan. Karena itu sampai sekarang dia sering ketakutan mendengar cicak.
Waktu ia berani terhadap kucing, orang orang sekitar memujinya, karena tidak semua anak seusianya berani dengan kucing. Lalu mengapa dengan cicak takut? Apa hubungannya denngan Percaya diri?
Saya pelan pelan menyadari perbedaan sikap delisha mulanya karena salah asuh. Salah mengarahkan anak membuat dia yg harusnya berani jadi penakut. Begitupun dengan Percaya diri.
Percaya diri itu menurut saya pribadi bagian kondisi mental. Lokasinya tidak keliatan. Kita hanya lihat akibat dari percaya atau tidak percaya diri pada seseorang. Sedangkan penyebanya tidak keliatan. Dari google, saya dapatkan kalau orang tidak percaya diri diantaranya cenderung peragu, susah mengambil keputusan, pesimis, tidak kreatif dan inovatif, dll. Sebaliknya orang dengan tungkat percaya diri yang tinggi lebih tegas, optimis, kreatif, inovatif dll.
Menurut Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling (2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuatatau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri.
Jadi tidak percaya diri itu bagi saya seperti penyakit yang menyerang mental seseorang. Artinya kondisi awalnya sehat, bukan? Hanya ada sesuatu yang membuatnya sakit, dan ini hanya bisa digali oleh psikolog.
Jadi, bagi saya, sebenarnya dari lahir anak itu punya ke-PD-an yang tinggi. Belum dua tahun saja, anak saya sudah meniru umminya menyetrika pakaian, menyapu lantai, memasak dll. Rasa penasarannya tinggi. Dan sepertinya semua anak yang saya jumpai seperti itu. Bedanya cara ia mengolah informasi saja. Ada yg visual, auditory, kinestetik dll. Jadi pada masa tertentu anak mulai berbeda beda dalam tindakan mencari dan mengolah informasinya.
Nah kenapa ada yg jadi tidak Percaya diri? Kembali ke awal, pasti ada hal yang disadari atau tidak merupakam kesalahan dalam mengasuh. Yang menyebabkan penyakit pada mentalnya. Saya bukan psikolog atau ahli agama. Tapi sedang menjadi ayah dan membaca beberapa buku tentang mengasuh.hehe. Dari yang saya dapatkan saya sampai saat ini sedang melakukan hal di bawah ini dalam menjaga dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.
1. Tidak sering melarang
Delisha sering saya biarkan memenuhi rasa ingin tahunya. Kalaupun apa yang ingin ia lakukan berbahaya, saya kasih tau sebisa mungkin bahayanya-karena dia masih 2 tahun, caranya perlu macam-macam. Sampai dia menghindari sendiri. Kenapa tidak saya larang dari awal? Nanti rasa penasaranya memudar. Kemauan mencobanya berkurang. Keseringan dilarang buat dia malas melakukan sesuatu. Dan selalu merasa salah . Kalo sampai besar begitu kan repot?
Ia besarnya bisa jadi peragu, karena takut salah. Tidak kreatif dan inovatif karena rasa ingin tahu dan mencobanya sudah ditekan sejak dini. Dsb.
2 apresiasi
Kalo lagi main puzzle, setiap kali berhasil meletakan potongan pada tempatnya. Saya dan uminya bertepuk tangan.
"Horee...hebat...bener... !"
Ia tersenyum senang sambil ikut tepuk tangan. Begitupun saat meminta dia mengulangi angka dan doa sebelum tidur. Apabila ucapannya benar kami beri apresiasi.
Rasa senang yang kami tunjukan dengan senyum dan tepuk tangan bagi saya amat berdampak. Menumbuhkan semangatnya, mendorongnya mencoba hal-hal baru.
Misalnya tiba-tiba ia menyusun perkengkapan kosmetik uminya, tanpa sepengetahuan kami, tiba-tiba ia bilang
"Ayah, lihattt..."
Lalu saya puji dan menciumnya. Dia juga akan berlaku sama saat berhasil loncat atau memanjat bingkai pintu, padahal belum dua tahun dan perempuan juga. Tapi saya memilih mengapresiasinya. Saya tidak mau membunuh rasa ingin mencoba dan penasarannya. Hanya karena ketakutan yg blum pasti dengan langsung melarangnya.
Pada tahap memuji ini saya sedang belajar memuji proses, bukan hasil saja. Tapi seiring dia tumbuh, nanti kalau agak besar, mudah-mudahan dia sadar yang terpenting proses, sehingga ia tidak gampang menyerah dan mengutuki sendiri ketika gagal. Malah, karena sifat mau mencoba, menghargai usahamya sejauh apapun, membuat dia lebih menghargai dirinya sendiri. Dan terhindar dari tidak PD.
Baru Itu saja yang sampai saat ini pelan- pelan saya lakukan. Lihat umurnya juga. Makin besar pasti makin banyak yang harus dilakukan untuk membuat anak percaya diri. Sambil juga membiasakan dia berdoa dan mengenalkan penciptanya. Ini penting. Suatu saat Kalo dia shalehah dan imannya kuat, dengan sendirimya ia akan percaya diri. Karena hanya Alloh yang ia takuti, karena Alloh ia berani berbuat yang baik dan benar.
Wassalam.

Selasa, 11 Agustus 2015

Bersama Anak

Anak kita akan tumbuh. Tidak terasa ia akan sekolah. Makin tinggi pendidikannya makin besar pula tingkat kesibukannya.
Otomatis waktu bersama dengan orang tua berkurang, biasanya pada momen ini justru ortu mulai merindukan lagi kehadiran anak. Meski mereka paham, kini anak sudah punya dunianya, sudah punya kesibukannya sendiri.
Karena itu, mumpung masih kecil, sebisa mungkin sya gunakan waktu bersenang senang dengan anak . Alhamdulilah, beberapa hal yg dlu sya pikir mustahil sya lakukan, bisa sya lakulan, memandikan, ganti popok, nyiapin makanan dll Hehe
Memgapa, karena sya tau.belum tentu di masa mendatang saya punya waktu sebanyak sekarang bersamanya.