Saya membenci bosan sama seperti membenci malas. Saat merasakan bosan seolah jiwa saya terseret dalam sebuah penjara kaca. Mendekam di sana. Hanya mampu bercermin dan itulah jenis siksaannya. Setiap saat hanya melihat wajahmu, tangan, kaki atau tubuhmu. Berhari-hari dari membuka mata dan memejamkannya lagi, mau tidak mau hal minimal yang dilakukan yaitu melihat bayanganmu dalam cermin. Bosan, bukan? Membayangkannya saja sudah mengerikan.
Maka apa yang di harapkan saat itu? Aku mengharapkan dapat memecahkan kaca tetsebut. Atau seseotang dari luar tiba-tiba menggantamkan palu. Kaca retak. Dan beberapa detik kemudia pecah lantas aku keluar. Bebas.
Bosan ialah tentang rutinitas dan ketidakbetdayaan. Sekat-sekat kaca tak terlihat sering tidak disadari membatasi. Kebosanan itu merenggut kebahagiaan.
Maka lakukan sesuatu, untuk menghancurkan penghalang itu. Lakukan dobrakan. Lakukan hal yang dulu tidak berani kamu lakukan. Atau yang sempat tertunda. Atau kamu lakukan setengah-setengah. Bisa jadi justru itulah senjatamu (baca :passion)selama ini yang selama ini tanpa sadar kamu cari untuk menghancurka jeruji sel mu.
Atau bila kamu tidak bisa melakukannya sendiri, saat ini. Carilah seseorang yang bisa melakukannya untukmu. Menepuk baahumu. Menyemangatimu. Menarikmu keluar dari zina nyaman. Mengenalkanmu dmbagaimana indahnya dunia ktika kau berhasil menjalaninya dengan sempurna. Carilah seseorang dengN pengalaman menghancirkan kaca tersebut. Karena dialah yang paling bisa menghancurkan kacamu.