Sekejap dunia ini seperti berhenti
berputar, jam di dinding berhenti berdetak. Orang orang yang ramai berlalu
lalung seaakan tiba tiba mematung. Hanya angin yg masih bebas menderu, menyelinap
pada celah celah keramaian, lalu mengibaskan rambut ikal wanita didepanku. Mata
kami bersitatap saat tidak sengaja bertemu ketika ia hendak memasuki mini
market di pinggir jalan dan aku hendak keluar.
Masih hening tanpa suara, lalu lalang
deru mesin kendaraan tak terhiraukan seolah tak terdengar, juga tau harus berbicara apa, tak tau harus berbuat
apa. Lidah ini menjadi kelu, seketika kenangan beberapa bulan silam melintas di
kepala.
Satu detik... tiga detik... lima detik... kulihat air berjatuhan dari
pelupuk matanya yang jelita pelan pelan
membasahi pipinya yang semakin memerah itu. Rasa rindu ini menyemburat begitu menyesakaan dada, padahal sudah susah
payah berbulan bulan ini kuhapus wajahnya dalam pikiran, mengubur dalam dalam
perasaan yang tak sempat disalurkan. Menambah kesibukan kulakukan hanya untuk
melupakannya , mengambil lembur setiap bekerja, juga menghabiskan waktu
berkonsultasi ke dokter, mencari obat obatan tradisional juga mencari
pengobatan alternatif lintas kota, bahkan lintas negara.
Sekuat tenaga ku jaga prasaanku. Memasang
wajah sedatar mungkin seolah tak terjadi
apa apa meski hati sudah tak berbentuk sepertinya. Pandangan Mata tak pernah bohong, inilah organ
yang selalu jujur memancarkan perasaan manusia maka kutundukan pandangan. Hanya
Menatap bayangannya, dan sesekali melihat tetesan air menimpa bayangnya.
Kembali retina mata ini manangkap
sepasang matanya, meski basah tapi tetap jelita. Yah, wajah ini wajah yang kukenal amat ceria, alisa adalah
teman kampusku yang supel dan pintar bercerita. Hal yang sederhana menjadi menjadi
lebih menarik saat dia yang bercerita karena itu orang orang senang sekali
mendengar ceritanya, juga senang akan kepolosan dan kejujurannya. Tak heran Ia
dekat dengan banyak orang. Mulai dari anak anak, teman sebaya hingga para dosen
dan staf kampus. Tiap hari aneh rasanya bila senyum tak menghiasi bibirnya. Dan
aku beruntung bisa satu kelas dengan alisa,bisa mengenalnya sehingga berkesempatan
mendengar cerita cerita seru alisa. Tapi detik ini tak ada wajah itu, wajah
yang ceria, senyum yang menghiasi bibir. Tak ada. Hanya ada air mengalir deras
membasahi pipinya. Payahnya aku tak bisa berbuat apa apa.
“hapus air matamu alisa, begitu
banyak orang lalu lalang disini, mereka nanti berkesimpulan macam macam” pintaku
“mengapa ...kau ...tega pergi bgitu
saja, membatalkan semuanya hanya dengan satu sms” lirihnya kulihat ia berusaha
menahan gejolak di dadanya sekaligus menahan amarah.
“harusnya kau sudah melupakannya
alisa, kurasa pilihan ini akan lebih baik buatmu. Sudahlah kau bersyukur nanti ”
ujarku,tiba tiba rekaman masa lalu berputar dikepala. Membuka kembali sel sel
yang sepertinya telah usang dimakan waktu.
***
Setiap hari Aku tak sanggup
membayangkan bagaimana ia melewati saat itu. Masih teringat dibenakku saat memutuskan
datang kerumahnya bukan bertemu alisa
tapi ayahnya. Susah payah menyusun kata,
padahal semalaman sudah kulatih diriku berbicara di depan cermin meniru gaya
pembicara favoritku mario teguh. Namun ternyata
latihan itu percuma semuanya buyar seketika saat melihat mata tajam pria
setengah baya didepanku saat itu. Ciut nyaliku.
“Dont
judge a book by the cover” begitulah
yang bisa kusimpulkan, ia membuat percakapan begitu hangat sampai menghilangkan
rasa takut pada wajahnya yang tampak sangar. Kata kata yang semula susah payah diucapkan
akhirnya mampu mengalir dengan lancar. Ayahnya ternyata orang yang amat ramah dan
sama seperti anaknya amat supel. Memang daun jatuh tak jauh dari pohonnya.
Setelah berbincang kesana kemari dari mulai mengomentari sepak
bola tadi malam, membahas perkembangan politik indonesia tentang korupsi sapi
serta keprihatinannya tentang situasi pendidikan indonesia, disela juga dengan
gosip terkini mengenai kudeta cinta vicki, maka sampailah kita pada topik
utama.
Beberapa menit kemudian Satu kalimat iitu meluncur. Seperti habis
melempar beban satu kilo dari punduk. Lega. Ringan rasanya. Masalah diterima
atau tidak terserah. Yang penting aku sudah mengatakanya.
“saya mau melamar anak bapak
menjadi istri saya” uangkapku malu malu
“hemm, apa kamu sudah merasa siapp
menjadi suami?”
“saya siap pak, segalanya sudah saya
siapkan.”
“kamu bisa bimbing alisa, mendidik
putriku satu satunya , buat ia dewasa juga bahagia?”
“Insya Alloh saya akan berusaha pak”
jawabku mantap seperti kesanggupan seorang prajurit menjawab sebuah misi.
“baiklah bapak akan persiapkan
segalanya dan undang keluargamu kemari”
“maksudnya pak? ” pura pura tidak
mengerti, cepat sekali.
“ Alisa sudah banyak cerita tentang
mu, tidak perlu lagi bapak bertanya lebih jauh ”
“owh iya pak, cerita apa aja
pak?bukan bukan, maksudnya undang keluarga buat apa pak?”
“lho katanya mau nikah sama anak
saya, asal karena kamu sudah bilang mampu lha ayo segerakan”
“Alhamdulilah, terima kasih. Akan
saya kabarkan pada bapak dan ibu di kampung secepatnya.” Mudah sekali,
prosesnya lancar. Alhamdulilah. Semuanya amat mudah. Tidak seperti bayanganku
Seperti bunga yang merekah di pagi
hari, ada keindahan dan kesegaran. Begitulah kondisi hatiku. Ingin segera
kukabari teman, namun urung biarlah ini menjadi kejutan. Pelan pelan kubuat
konsep pernikahan kami juga
berkoordinasi dengan keluarga alisa
karena berdasarkan tradisi keluarga perempuanlah yang menyiapkan pernikahan,
maka ayah alisa dibantu kerabat nya sudah mulai mencari cari gedung, menghubungi
pihak katering , dokumentasi dan Mencetak undagan.
Semua hal masih terasa baik baik
saja masih normal, semua keluarga
bersuka cita. Termasuk diriku, tak sabar menunggu undangan jadi dan
membagikannya pada teman teman. Hari hariku saat itu benar benar diliputi
kebahagian, semangatku beraktivitas meningkat, teman teman menjadi heran
melihatku. Kedepan aku tak perlu lagi mendengar cerita cerita alisa dikampus
bersama yang lainnya, juga tak perlu diam diam mencuri pandang menatap wajahnya
yang ceria, rasanya sudah tidak perlu. Sebab aku bisa berdua berbincang bincang
tiap hari, memandang lamat wajahnya dari dekat. Cuma aku dan dia saja.
Harapan tinggal harapan. Kegembiraan ini ternyata tak selamanya mau menemaniku,
saat itu tanpa seorang pun tahu, seseuatu dengan
kejam merampas kebahagian itu dariku. Melenyapkan segala harapan yang kuangan
angankan sepanjang hari. Begitu kejamnya, tanpa mau berkompromi tanpa ada lobi
lobi. Ia datang dengan kasar dan mengambil segalanya!!
***
“Ada urusan yang kuprioritaskan,
menikah terlalu cepat ternyata akan menimbulkan banyak masalah bagi karirku nanti
alisa. Sudah kau sampaikan maafku pada
ayah kan?”
“sungguh kau tdak saja
mengecewakanku tapi ayah. Ia amat percaya padamu. Ia... langsung memuji mujimu
setelah kau datang kerumah, tapi....kenapa...kau se..te ..ga itu..” makin
deras, kulihat ia mencoba mengambil tisu dan menghapus air matanya.
“sekali lagi maafkan aku, semua
sudah berlalu, kuharap kau mendapat yang lebih baik” ucapku datar.
“asal kau tahu setelah pembatalan
tiba tiba darimu, ayah sempat sakit beberapa hari, aku Cuma memiliki ayah dan
bagaimana bila aku kehilangaan ia?!!!”
Seperti ditusuk tepat di bagian
dada, rasa menyesal menyeruak, sungguh penyesalan hanyalah penyesalan. Ia datang
memberi perih luka yang sudah menganga makin diingat makin perih. Tapi buru
buru kujaga ekspresi wajahku, ia tak boleh tau aku mnyesal, biarlah aku dikira
penjahat. Biarlah!
Ia masih menangis, ingin sekali
kuseka air matanya. Ingin keberi tau kejadian sebenarnya. mengatakan atau tidak mengatakan tetap hanya akan
menatap kesedihan yang dalam. Namun hati
ini tak kuasa memilih mengatakannya. Bukanlah sifatku untuk terbuka pada hal
seperti ini. Meski inilah pilihan paling bijak.
Taksi yang tadi dipesan datang, kujulurkan
tangan memberi kode lalu Tanpa pamit dengan segera ku menghampiri taksi. Ia tak
kuasa menghentikan langkah kaki ku,setelah membuka pintu dan menutupnya agak kencang.
Ujung mataku menangkap wajah sedihnya. Wajahnya makin tak beratuan.
Didalam taksi, perasan ini
bergejelok, ibarat burung yang tak sabar ingin mengepakkan sayap maka setelah
kandang di buka, ia melesat menuju langit, begitulah perasaan ini. Seluruh
perasaan yng kubendung setengah mati membuncah semua, tak terasa air hangat
mengalir di pipiku. Terbayang wajah sumringahnya, wajah ayahnya yang supel , perbincangan
hangat kami saat aku datang kerumahanya, namun teganya kubuat oarang orang baik
itu terluka. Jahat sekali diri ini, jahat!
Dalam taksi diam diam sang supir
memperhatikanku dari kaca spion, ia juga melihat saat aku terbatuk batuk , juga saat darah
membuncah serta mngenai punggung kursinya. Cepat cepat kuhapus bekas darah
mennggunakan tisu yang kubeli tadi.
***
‘Umurmu berdasarkan analisa medis hanya
tersisa 3 bulan, saya akan terus berusaha menyembuhkannmu, meski secara
keilmuan sampai sekarang penyakit ini belum ada obatnya. Hanya tetap
lah berharap pada yang maha kuasa, tidak ada yang tidak mungkin baginya nak’
Itulah kata kata dokter yang terus
terngiang ngiang dibenakku. Alarm ku
berdering, displai memberitahuku kalo sekarang pemeriksaan terakhir sekaligus
jatuh tempo umurku kata dokter dulu.sejenak kututup mataku.
Aku melakukan ini agar kau tak lebih
menderita, lebih baik kau anggap aku penjahat tapi kau bebas memilih yang jodohmu
lagi, melanjutkan kehidupanmu sebelumnya, ketimbang tau faktanya dan dari sifatmu pasti kau rela menghabiskan waktu
membantuku kesana kemari yang ujungnnya hanya membuang buang waktumu saja, dan
ku yakin kau pasti menangis setiap hari. Ketimbang ku melihatmu dikunkung
kesedihan terus menerus lebih baikk kucabut sayangmu dan kuganti dengan benci.
Bagi nuraniku hal itu lebih baik. Aku tak memahami cinta dan tak sempat
membangun cinta denganmu, namun bagiku
yang kulakukan ini adalah bukti cintaku alisa, cinta yang tak pernah
menemukan muaranya. Alisa andai aku sempat mengatakan bahwa bertemu dengan mu
adalah hal paling baik dalam hidupku , hufth...maafkan aku alisa , Ujarku
dalam hati
25-9-13