Rabu, 25 September 2013

Aku, Alisa dan kenangan


Sekejap dunia ini seperti berhenti berputar, jam di dinding berhenti berdetak. Orang orang yang ramai berlalu lalung seaakan tiba tiba mematung. Hanya angin yg masih bebas menderu, menyelinap pada celah celah keramaian, lalu mengibaskan rambut ikal wanita didepanku. Mata kami bersitatap saat tidak sengaja bertemu ketika ia hendak memasuki mini market di pinggir jalan dan aku hendak keluar.
Masih hening tanpa suara, lalu lalang deru mesin kendaraan tak terhiraukan seolah tak terdengar, juga  tau harus berbicara apa, tak tau harus berbuat apa. Lidah ini menjadi kelu, seketika kenangan beberapa bulan silam melintas di kepala.  

Satu detik... tiga detik...  lima detik... kulihat air berjatuhan dari pelupuk matanya yang  jelita pelan pelan membasahi pipinya yang semakin memerah itu.  Rasa rindu ini menyemburat  begitu menyesakaan dada, padahal sudah susah payah berbulan bulan ini kuhapus wajahnya dalam pikiran, mengubur dalam dalam perasaan yang tak sempat disalurkan. Menambah kesibukan kulakukan hanya untuk melupakannya , mengambil lembur setiap bekerja, juga menghabiskan waktu berkonsultasi ke dokter, mencari obat obatan tradisional juga mencari pengobatan alternatif lintas kota, bahkan lintas negara.

Sekuat tenaga ku jaga prasaanku. Memasang wajah sedatar mungkin  seolah tak terjadi apa apa meski hati sudah tak berbentuk sepertinya.  Pandangan Mata tak pernah bohong, inilah organ yang selalu jujur memancarkan perasaan manusia maka kutundukan pandangan. Hanya Menatap bayangannya, dan sesekali melihat tetesan air menimpa bayangnya.

Kembali retina mata ini manangkap sepasang matanya, meski basah tapi tetap jelita. Yah, wajah ini  wajah yang kukenal amat ceria, alisa adalah teman kampusku yang supel dan pintar bercerita. Hal yang sederhana menjadi menjadi lebih menarik saat dia yang bercerita karena itu orang orang senang sekali mendengar ceritanya, juga senang akan kepolosan dan kejujurannya. Tak heran Ia dekat dengan banyak orang. Mulai dari anak anak, teman sebaya hingga para dosen dan staf kampus. Tiap hari aneh rasanya bila senyum tak menghiasi bibirnya. Dan aku beruntung bisa satu kelas dengan alisa,bisa mengenalnya sehingga berkesempatan mendengar cerita cerita seru alisa. Tapi detik ini tak ada wajah itu, wajah yang ceria, senyum yang menghiasi bibir. Tak ada. Hanya ada air mengalir deras membasahi pipinya. Payahnya aku tak bisa berbuat apa apa.

“hapus air matamu alisa, begitu banyak orang lalu lalang disini, mereka nanti berkesimpulan macam macam” pintaku
“mengapa ...kau ...tega pergi bgitu saja, membatalkan semuanya hanya dengan satu sms” lirihnya kulihat ia berusaha menahan gejolak di dadanya sekaligus menahan amarah.
“harusnya kau sudah melupakannya alisa, kurasa pilihan ini akan lebih baik buatmu. Sudahlah kau bersyukur nanti ” ujarku,tiba tiba rekaman masa lalu berputar dikepala. Membuka kembali sel sel yang sepertinya telah usang dimakan waktu.

***

Setiap hari Aku tak sanggup membayangkan bagaimana ia melewati saat itu. Masih teringat dibenakku saat memutuskan datang kerumahnya  bukan bertemu alisa tapi ayahnya. Susah payah  menyusun kata, padahal semalaman sudah kulatih diriku berbicara di depan cermin meniru gaya pembicara favoritku mario teguh.  Namun ternyata latihan itu percuma semuanya buyar seketika saat melihat mata tajam pria setengah baya didepanku saat itu. Ciut nyaliku.

“Dont judge a book by the cover”  begitulah yang bisa kusimpulkan, ia membuat percakapan begitu hangat sampai menghilangkan rasa takut pada wajahnya yang tampak sangar. Kata kata yang semula susah payah diucapkan akhirnya mampu mengalir dengan lancar. Ayahnya ternyata orang yang amat ramah dan sama seperti anaknya amat supel. Memang daun jatuh tak jauh dari pohonnya.
Setelah berbincang  kesana kemari dari mulai mengomentari sepak bola tadi malam, membahas perkembangan politik indonesia tentang korupsi sapi serta keprihatinannya tentang situasi pendidikan indonesia, disela juga dengan gosip terkini mengenai kudeta cinta vicki, maka sampailah kita pada topik utama.  

Beberapa menit kemudian  Satu kalimat iitu meluncur. Seperti habis melempar beban satu kilo dari punduk. Lega. Ringan rasanya. Masalah diterima atau tidak terserah. Yang penting aku sudah mengatakanya.
“saya mau melamar anak bapak menjadi istri saya” uangkapku malu malu
“hemm, apa kamu sudah merasa siapp menjadi suami?”
“saya siap pak, segalanya sudah saya siapkan.”
“kamu bisa bimbing alisa, mendidik putriku satu satunya , buat ia dewasa juga bahagia?”
“Insya Alloh saya akan berusaha pak” jawabku mantap seperti kesanggupan seorang prajurit menjawab sebuah misi.
“baiklah bapak akan persiapkan segalanya dan undang keluargamu kemari”
“maksudnya pak? ” pura pura tidak mengerti, cepat sekali.
“ Alisa sudah banyak cerita tentang mu, tidak perlu lagi bapak bertanya lebih jauh ”
“owh iya pak, cerita apa aja pak?bukan bukan, maksudnya undang keluarga buat apa pak?”
“lho katanya mau nikah sama anak saya, asal karena kamu sudah bilang mampu lha ayo segerakan”
“Alhamdulilah, terima kasih. Akan saya kabarkan pada bapak dan ibu di kampung secepatnya.” Mudah sekali, prosesnya lancar. Alhamdulilah. Semuanya amat mudah. Tidak seperti bayanganku

Seperti bunga yang merekah di pagi hari, ada keindahan dan kesegaran. Begitulah kondisi hatiku. Ingin segera kukabari teman, namun urung biarlah ini menjadi kejutan. Pelan pelan kubuat konsep pernikahan kami  juga berkoordinasi dengan keluarga  alisa karena berdasarkan tradisi keluarga perempuanlah yang menyiapkan pernikahan, maka ayah alisa dibantu kerabat nya  sudah mulai mencari cari gedung, menghubungi pihak katering , dokumentasi dan Mencetak undagan.  

Semua hal masih terasa baik baik saja masih normal, semua keluarga  bersuka cita. Termasuk diriku, tak sabar menunggu undangan jadi dan membagikannya pada teman teman. Hari hariku saat itu benar benar diliputi kebahagian, semangatku beraktivitas meningkat, teman teman menjadi heran melihatku. Kedepan aku tak perlu lagi mendengar cerita cerita alisa dikampus bersama yang lainnya, juga tak perlu diam diam mencuri pandang menatap wajahnya yang ceria, rasanya sudah tidak perlu. Sebab aku bisa berdua berbincang bincang tiap hari, memandang lamat wajahnya dari dekat. Cuma aku dan dia saja.

Harapan tinggal harapan.  Kegembiraan  ini ternyata tak selamanya mau menemaniku, saat itu tanpa seorang pun tahu, seseuatu dengan kejam merampas kebahagian itu dariku. Melenyapkan segala harapan yang kuangan angankan sepanjang hari. Begitu kejamnya, tanpa mau berkompromi tanpa ada lobi lobi. Ia datang dengan kasar dan mengambil segalanya!!
***
“Ada urusan yang kuprioritaskan, menikah terlalu cepat ternyata akan menimbulkan banyak masalah bagi karirku nanti alisa. Sudah kau sampaikan maafku  pada ayah kan?”
“sungguh kau tdak saja mengecewakanku tapi ayah. Ia amat percaya padamu. Ia... langsung memuji mujimu setelah kau datang kerumah, tapi....kenapa...kau se..te ..ga itu..” makin deras, kulihat ia mencoba mengambil tisu dan menghapus air matanya.

“sekali lagi maafkan aku, semua sudah berlalu, kuharap kau mendapat yang lebih baik” ucapku datar.
“asal kau tahu setelah pembatalan tiba tiba darimu, ayah sempat sakit beberapa hari, aku Cuma memiliki ayah dan bagaimana bila aku kehilangaan ia?!!!”

Seperti ditusuk tepat di bagian dada, rasa menyesal menyeruak, sungguh penyesalan hanyalah penyesalan. Ia datang memberi perih luka yang sudah menganga makin diingat makin perih. Tapi buru buru kujaga ekspresi wajahku, ia tak boleh tau aku mnyesal, biarlah aku dikira penjahat. Biarlah!

Ia masih menangis, ingin sekali kuseka air matanya. Ingin keberi tau kejadian sebenarnya.  mengatakan atau tidak mengatakan tetap hanya akan menatap kesedihan  yang dalam. Namun hati ini tak kuasa memilih mengatakannya. Bukanlah sifatku untuk terbuka pada hal seperti ini. Meski inilah pilihan paling bijak.
Taksi yang tadi dipesan datang, kujulurkan tangan memberi kode lalu Tanpa pamit dengan segera ku menghampiri taksi. Ia tak kuasa menghentikan langkah kaki ku,setelah  membuka pintu dan menutupnya agak kencang. Ujung mataku menangkap wajah sedihnya. Wajahnya makin tak beratuan.

Didalam taksi, perasan ini bergejelok, ibarat burung yang tak sabar ingin mengepakkan sayap maka setelah kandang di buka, ia melesat menuju langit, begitulah perasaan ini. Seluruh perasaan yng kubendung setengah mati membuncah semua, tak terasa air hangat mengalir di pipiku. Terbayang wajah sumringahnya, wajah ayahnya yang supel , perbincangan hangat kami saat aku datang kerumahanya, namun teganya kubuat oarang orang baik itu terluka. Jahat sekali diri ini, jahat!

Dalam taksi diam diam sang supir memperhatikanku dari kaca spion, ia juga melihat saat aku terbatuk batuk , juga saat darah membuncah serta mngenai punggung kursinya. Cepat cepat kuhapus bekas darah mennggunakan tisu yang kubeli tadi.

***

 ‘Umurmu berdasarkan analisa medis hanya tersisa 3 bulan, saya akan terus berusaha menyembuhkannmu, meski secara keilmuan  sampai sekarang  penyakit ini belum ada obatnya. Hanya tetap lah berharap pada yang maha kuasa, tidak ada yang tidak mungkin baginya nak’

Itulah kata kata dokter yang terus terngiang ngiang dibenakku.  Alarm ku berdering, displai memberitahuku kalo sekarang pemeriksaan terakhir sekaligus jatuh tempo umurku kata dokter dulu.sejenak kututup mataku.
Aku melakukan ini agar kau tak lebih menderita, lebih baik kau anggap aku penjahat tapi kau bebas memilih yang jodohmu lagi, melanjutkan kehidupanmu sebelumnya, ketimbang  tau faktanya dan  dari sifatmu pasti kau rela menghabiskan waktu membantuku kesana kemari yang ujungnnya hanya membuang buang waktumu saja, dan ku yakin kau pasti menangis setiap hari. Ketimbang ku melihatmu dikunkung kesedihan terus menerus lebih baikk kucabut sayangmu dan kuganti dengan benci. Bagi nuraniku hal itu lebih baik. Aku tak memahami cinta dan tak sempat membangun cinta denganmu, namun bagiku  yang kulakukan ini adalah bukti cintaku alisa, cinta yang tak pernah menemukan muaranya. Alisa andai aku sempat mengatakan bahwa bertemu dengan mu adalah hal paling baik dalam hidupku , hufth...maafkan aku alisa , Ujarku dalam hati

25-9-13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar