Selasa, 24 Mei 2016

Kenapa Saya Menulis?

Kenapa Saya Menulis??

Mulanya, awal-awal keinginan menulis muncul, karena saya terkesima dengan beberapa buku yang saya baca. Khususnya fiksi dan buku motivasi. Lalu, muncul gairah untuk ikut menulis juga. Pikir saya, saya juga bisa menulis, dan mungkin akan terlihat keren kalau sudah punya buku sendiri. Hehe

Seiring pembelajaran yang maju mundur sesuai waktu luang dan mood, sambil mengatasi kesulitan-kesulitan yang menghadang(hehe lebay), pelan-pelan niat saya berubah.

Peubahan niat ini terjadi dalam proses belajar menulis. Dulu awal-awal belajar(sekarang pun masih belajar) kalimat saya selalu dibumbui istilah-istilah yang tidak umum dan terkesan berbobot. Kalimat pun dibuat semenarik mungkin bahkan sedikit dipuitiskan. Itu semua agar terkesan keren. Sayangnya ketika dibaca dahi malah mengkerut. Tulisan justru tidak enak dibaca. Fiksi juga demikian, awal-awalnya, semua kalimat seolah puitis dan memakai diksi yang tak umum. Hasilnya sama, nggak nyaman dibaca. Sampai saya paham, orang-orang mengkerut bahkan malas melanjutkan membaca mungkin karena merasa tidak jelas, ini toh mau nulis apa? Mau ngasih pesan apa?

Jadi saya menyadari menulis itu menyampaikan pesan. Maka saya harus menyerderhanakan penyampaian.

Tidak perlu rumit-rumit. Pembaca harus bisa mencerna tulisan saya tanpa mengkerut dan tidak bosan. Lebih bagus kalau pembaca sampai tidak beranjak hingga selesai membaca. Demi apa? Demi pesannya sampai. Sebab saya baru menyadari tulisan-tulisan yang bagus menurut saya waktu itu, adalah mudah dicerna dan pesannya  dapat, meski materinya tidak sederhaha.

Nah, namanya semangat ada naik-turunnya, kalau saya sering turunnya, hehe, di masa itu, tentu saya tidak menulis, yang saya lakukan adalah membaca.  Semalas-malasnya membaca minimal membaca postingan-postingan orang yang bertebaran di FB.

Di sinilah saya baru menyadari hal yang lebih penting berkenaan tentang urgensi menulis. Hal serius dan amat serius mengapa saya harus menulis.

Saya membaca banyak tulisan yang  bagus, berbobot, penyampaian sederhana, enak dibaca, pesan yamg kuat tapi sayang, menjerumuskan. Sekali lagi menjerumuskan!!

Misalkan, bagaimana sebuah artikel seseorang dengan pendidikan tinggi (S2, S3) pada akhirnya menuntun mendukung miras, LGBT, membela pemimpin yang sudah terbukti tidak kompeten, menjatuhkan orang orang baik, juga ada pula penulis yang lihai menggiring kita meragukan kembali isi kitab suci, sejarah2 nabi, dan menolak ajaran2 suci!!

Hebatnya, tulisan mereka begitu samar tanpa memperlihatkan kebencian. Bahkan  pembaca tulisan itu yang notabene sudah memiliki keyakinan yang mendarah daging bisa bertanya-tanya lagi tentang keyakinanya. Tidak sedikit teman yang saya minta baca mengangguk-nggauk. Lalu berujar, "benar juga ya? Jangan-jangan cerita itu cuman dongeng? "Wah isi kitab suci sudah tidak telawan ya!"

Saya menelan ludah, merasa miris. Disaat bersaman juga merasa marah. Marah karena detik itu saya tak punya sedikit pengetahuan pun untuk membahtah. Saya merasa kecil dan bodoh. Untuk membela yang kita yakini bertahun-tahun saja saya tidak mampu.

Tidak sedikit Tulisan2 itu dilike ribuan dan dishare ratusan orang. Miris bukan??! Bayangkan bagaimana bila itu dibaca banyak orang yang sebelumnya sedikit punya keyakinan. Yang banyak saja bisa ragu. Di titik itu saya menyayangkan dua kelemahan, pertama sedikit pengtahuan(jarang baca) dan  tidak punya kemampuan menulis.

Tidak hanya itu, coba rasakan bagaimana kondisi negara sekarang? Untuk warga sipil biasa apa yang bisa kita lakukan untuk mengkritisi pemerintah? Demo saya kira tidak efektf malah mempersulit diri terlebih media maenstrem seolah tidak merestui perjuangan jalan. Mereka kehilangan objektifitas dalam jurnalisme. Lalu apakah saya diam? Tidak. Sekarang era digital, tulisanlah senjata ampuh.

Apa yang disampaikan kang Tendi pada kelas pertama menegaskan kembali keyakinan saya bahwa saya harus punya niat yang agung, lebih dari sekadar uang dan popularitas. Menulis bagi saya adalah cara saya melakukan perubahan. Melawan kesesatan yang merajalela merajai pikiran sekarang ini.

Menulis untuk menebarkan pesan positif, mengubah banyak orang menjadi lebih baik, melawan pesan sesat dan membahayakan. Pada akhirnya menulis fiksi atau non fiksi harus ada sedikitnya pesan baik untuk perubahan. Sekalipun membuat seseorang yang mulanya malas mandi jadi rajin. Biasa atau malas menyambut ramdhan jadi gembira, dll. Kalau belum mumpuni dengan hal-hal besar paling tidak kita dapat melakukan hal-hal kecil atau perubahan-perubahan kecil.
So, saya belajar menulis untuk perubahan!

Robi Suganda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar