Pemateri : Ernawatililys
Prolog : Gairah Kerja
Tidak sedikit, para
sarjana muda yang baru terjun dalam rimba kerja merasa kaget! Ya kaget.
Ternyata banyak hal jauh dari bayangan mereka. Misalnya, mendapat
pekerjaan yang tidak sesuai dangan latar belakang akademis, merasakan
situasi kerja yang tidak kondusif, mendapati rekan kerja atau atasan yang tidak
menyenangkan alias nyebelin. Dan segala macam permasalahan kerja lainnya
seperti gaji, bonus, waktu kerja dll.
Apa yang kemudian mereka
rasakan? Bosan, malas, stress. Yap, segala emosi negatif
menumpuk dalam dada. Akhirnya tingkah atau sikap kerja mereka minus. Merosotnya
sikap tersebut membuat karir mereka mentok. Parahnya mereka tak punya pilihan
untuk pindah. Mentalitas sudah hancur duluan. Dalam benak mereka, di manapun
mereka berada akan menemukan hal yang sama. Atau bisa jadi mereka tak punya
skill khusus sebagai modal untuk pindah. Sebab selama ini mereka jarang
mengasah skill. Akhirnya dengan terpaksa mereka bertahan agar rupiah yang
mungkin tidak seberapa tetap mengalir demi menyambung hidup.
Apa yang terjadi? Mereka
menua dengan pekerjaaan yang menyesakkan dada. Sepertiga dari hidupnya dilalui
dengan dahi mengkerut. Miris bukan?
Begitukah nasib
anda? Saya harap tidak. Tapi sebagian orang boleh jadi pernah atau masih
mengalaminya. Mereka bekerja tanpa gairah. Mereka menua tanpa karya. Hidup
mereka stagnan dan begitu-begitu saja.
Bila sudah seperti itu,
adakah harapan untuk berubah? Ada. Percayalah selama jantung kita
berdetak, selama itu pula selalu ada kesempatan untuk berbenah atau
berubah. Dalam konteks kerja, apapun kondisi sekarang, solusinya, munculkanlah
gairah dalam bekerja. Seberat apapun yang dirasa, setidak sukanya dengan pekerjaan,
tetaplah bergairah. Kenapa?
Nah, sekarang coba
bayangkan bila anda melihat seorang tengah bergairah. Apa yang anda lihat?
Tunggu! Bukan gairah yang macam-macam, jadi jangan bayangkan yang bukan-bukan.
Hehe.
Maksud saya misalkan
anda melihat teman anda bergairah membaca buku. Sehari ia melahap dua sampai
tiga buku. Apa yang anda lihat? Betul, boleh jadi anda akan melihat semangat,
totalitas, fokus, dan peningkatan-peningkatan dalam apa yang dikerjakan. Bisa
jadi pembaca ber"gairah" tersebut lambat laun menulis buku dan bisa
anda temukan bukunya di berbagai toko buku. Singkatnya anda kelak akan
tercengang melihat perubahan seseorang karena kesungguh-sungguhannya ketika
mengerjakan. Istilah saya, mereka bergairah dengan kerjanya.
Nah, Itu yang kita
bahas, sebuah gairah positif. Sebuah gairah positif dalam bekerja. Agar apa?
Agar hal-hal positif mewarnai kita ketika melakukan kerja-kerja tersebut dan
akhirnya melahirkan karya luar biasa. Hingga kerja kita optimal.
Powerfull. Semangat.
Harapannya setelah anda
dengan ikhlas bergairah bekerja, pelan-pelan akan merasakan banyak keajaiban!
Karir meningkat tanpa perlu menjilat. Kenaikan Gaji tak makan hati. Dan kerja
yang bermula tak disuka berganti dengan sendirinya dengan yang lebih cocok.
Atau kerjanya sama, rasanya yang berbeda. Sebelumnya tidak suka sekarang
sebaliknya.
Lalu bagaimana memunculkan dan
melejitkan gairah tersebut? Inilah Fokus utama dalam buku ini. Jadi buku
ini tidak membahas tips mencari kerja atau kerja apa yang cocok dengan
kita. Bukan! Fokus buku ini menyasar kata gairah bekerja. Kata gairah perlu
ditekankan disini. Kalau perlu dibold atau underline.
Sebab menurut saya kata gairah identik dengan semangat yang berapi-api. Hehe.
Tidak hanya itu, buku
ini juga akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi melemahkan
semangat atau menghilangkan gairah. Seperti: Bagaimana bila pekerjaan
bertolak belakang dengan passion? Bagaimana sikap kita mendapati rekan
menyebalkan? Bagaimana merubah image yang sudah terlanjur
buruk? Bagaimana bila penghasilan tetap kecil tapi belum bisa resign?
Bagaimana supaya karir cepat naik atau kenaikan gaji tidak mengecewakan?
Bagaimana menkadi sosok yang benar-benar dibutuhkan perusahaan sampai tiba niat
untuk resign perusahaan justru menahan anda dengan tawaran
gaji meningkat ?
Nah sudah tidak sabaran?
Silahkan simak isi buku ini pelan-pelan. Hehe
Bab 1 : Kisah Mr A
Sebut saja namanya A. Ia
adalah seorang penerima beasiswa (lolos seleksi PT multinasional) dan sarjana
muda. Saat-saat sebelum menjalani kerja (sesuai kontrak kerja dengan pemberi
beasiswa) , dalam angan-angannya, untuk sekelas sarjana dengan IP
lumayan, ia akan meraih posisi minimal atasan yang punya anak buah. Ya,
Minimal! Ternyata tidak! sebaliknya pekerjaan yang ia dapat nyatanya jauh dari
bayangan, justru pekerjaan tersebut lebih cocok untuk lulusan SMK. Kondisi itu
membuatnya merasa malu dan kecewa.
Perasaan kecewa
itu memengaruhi pekerjaaannya dan sikapnya dalam bekerja. Ia
sebetulnya punya tanggung jawab, tapi kerap kali banyak melakukan kesalahan dan
tidak fokus. Di samping itu ia tidak cekatan, sering lupa untuk pekerjaan
teknis, selalu paling terakhir menyelesaikan beberapa pekerjaan, sering
terlambat, ceroboh, waktu luang tidak mau dipakai belajar atau mengasah skill,
ketika malam sering tertidur dan para atasan dari low hingga middle
management sering mendapatinya memain hp di waktu bekerja. Dalam waktu
singkat image yang terbentuk buruk dipikiran banyak orang. Terlebih
kesehatannya menurun karenanya surat dokternya banyak, hal yang tidak disukai
kebanyakan perusahaan terhadap karyawannya.
Suatu waktu ia dipindah,
alasanya shift lain menbutuhkan orang. Tapi konon beredar kabar itu
hanya alasan untuk atasannya yang tidak suka padanya. Maka ia pun pindah shift.
Beberapa lama setelah pindah shift, 3 teman seangkatannya mendapat
promosi. Ia dan kawannya sama sama menerima beasiswa dan menjalani kontrak
kerja, tapi kawannya melesat lebih dulu. Karirnya meningkat lebih cepat. Bahkan
mereka menjadi atasannya di lapangan. Saat itu ia merasa payah.
Hatinya hancur. Ia merasa terpuruk dan seolah menjadi pecundang.
Kira-kira bagaimna nasib
A berikutnya? Apakah pekerjannya tambah buruk?
Ternyata TIDAK. Ada
hikmah yang baru ia sadari jauh-jauh hari setelah kepindahannnya. Dalam kurang
dari dua tahun, mister A berhasil merubah imagenya 180 derajat. Ya!
Ia benar-benar berubah! Ia tak pernah tidur ketika shift malam, mengurangi
memegang HP, meningkatkan pengetahuaanya terhadap apa yang ia
kerjakan. Lebih fokus, lebih cekatan! Bahkan tidak ada celah sedikipun orang
lain untuk mengkritiknya. Atasannya dari low hingga middle memberi
nilai A berbanding terbalik dengan nilainya dulu. Gajinya meningkat
tinggi dibanding teman-temannya. Secara absensi ia masih kurang bagus, tapi
peformanya mengungguli mereka yang absensinya bagus. Terbukti peningkatan
gajinya sama dengan mereka yang absesensinya sempurna. Bagaimana rahasianya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar