Sabtu, 04 Juni 2016

Prolog : Gairah Kerja

Pemateri : Ernawatililys


Prolog : Gairah Kerja

Tidak sedikit, para sarjana muda yang baru terjun dalam rimba kerja merasa kaget! Ya kaget. Ternyata banyak hal jauh dari bayangan mereka. Misalnya, mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dangan latar belakang akademis,  merasakan situasi kerja yang tidak kondusif, mendapati rekan kerja atau atasan yang tidak menyenangkan alias nyebelin.  Dan segala macam permasalahan kerja lainnya seperti gaji, bonus, waktu kerja dll.

Apa yang kemudian mereka rasakan? Bosan, malas, stress. Yap,  segala emosi negatif menumpuk dalam dada. Akhirnya tingkah atau sikap kerja mereka minus. Merosotnya sikap tersebut membuat karir mereka mentok. Parahnya mereka tak punya pilihan untuk pindah. Mentalitas sudah hancur duluan. Dalam benak mereka, di manapun mereka berada akan menemukan hal yang sama. Atau bisa jadi mereka tak punya skill khusus sebagai modal untuk pindah. Sebab selama ini mereka jarang mengasah skill. Akhirnya dengan terpaksa mereka bertahan agar rupiah yang mungkin tidak seberapa tetap mengalir demi menyambung hidup.

Apa yang terjadi? Mereka menua dengan pekerjaaan yang menyesakkan dada. Sepertiga dari hidupnya dilalui dengan dahi mengkerut. Miris bukan?

Begitukah nasib anda?  Saya harap tidak. Tapi sebagian orang boleh jadi pernah atau masih mengalaminya. Mereka bekerja tanpa gairah. Mereka menua tanpa karya. Hidup mereka stagnan dan begitu-begitu saja.

Bila sudah seperti itu, adakah harapan untuk berubah? Ada. Percayalah selama jantung kita berdetak,  selama itu pula selalu ada kesempatan untuk berbenah atau berubah. Dalam konteks kerja, apapun kondisi sekarang, solusinya, munculkanlah gairah dalam bekerja. Seberat apapun yang dirasa, setidak sukanya dengan pekerjaan, tetaplah bergairah. Kenapa?

Nah, sekarang coba bayangkan bila anda melihat seorang tengah bergairah. Apa yang anda lihat? Tunggu! Bukan gairah yang macam-macam, jadi jangan bayangkan yang bukan-bukan. Hehe.

Maksud saya misalkan anda melihat teman anda bergairah membaca buku. Sehari ia melahap dua sampai tiga buku. Apa yang anda lihat? Betul, boleh jadi anda akan melihat semangat, totalitas, fokus, dan peningkatan-peningkatan dalam apa yang dikerjakan. Bisa jadi pembaca ber"gairah" tersebut lambat laun menulis buku dan bisa anda temukan bukunya di berbagai toko buku. Singkatnya anda kelak akan tercengang melihat perubahan seseorang karena kesungguh-sungguhannya ketika mengerjakan. Istilah saya, mereka bergairah dengan kerjanya.
Nah, Itu yang kita bahas, sebuah gairah positif. Sebuah gairah positif dalam bekerja. Agar apa? Agar hal-hal positif mewarnai kita ketika melakukan kerja-kerja tersebut dan akhirnya melahirkan karya  luar biasa. Hingga kerja kita optimal. Powerfull. Semangat.

Harapannya setelah anda dengan ikhlas bergairah bekerja, pelan-pelan akan merasakan banyak keajaiban! Karir meningkat tanpa perlu menjilat. Kenaikan Gaji tak makan hati. Dan kerja yang bermula tak disuka berganti dengan sendirinya dengan yang lebih cocok. Atau kerjanya sama, rasanya yang berbeda. Sebelumnya tidak suka sekarang sebaliknya.

Lalu bagaimana memunculkan dan melejitkan gairah tersebut? Inilah Fokus utama dalam buku ini. Jadi buku ini  tidak membahas tips mencari kerja atau kerja apa yang cocok dengan kita. Bukan! Fokus buku ini menyasar kata gairah bekerja. Kata gairah perlu ditekankan disini. Kalau perlu dibold atau underline. Sebab menurut saya kata gairah identik dengan semangat yang berapi-api. Hehe.

Tidak hanya itu, buku ini juga akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi melemahkan semangat atau menghilangkan gairah. Seperti: Bagaimana bila pekerjaan  bertolak belakang dengan passion? Bagaimana sikap kita mendapati rekan menyebalkan? Bagaimana merubah image yang sudah terlanjur buruk? Bagaimana bila penghasilan tetap kecil tapi belum  bisa resign? Bagaimana supaya karir cepat naik atau kenaikan gaji tidak mengecewakan? Bagaimana menkadi sosok yang benar-benar dibutuhkan perusahaan sampai tiba niat untuk resign perusahaan justru menahan anda dengan tawaran gaji meningkat ?
Nah sudah tidak sabaran? Silahkan simak isi buku ini pelan-pelan. Hehe

Bab 1 : Kisah Mr A

Sebut saja namanya A. Ia adalah seorang penerima beasiswa (lolos seleksi PT multinasional) dan sarjana muda. Saat-saat sebelum menjalani kerja (sesuai kontrak kerja dengan pemberi beasiswa) ,  dalam angan-angannya, untuk sekelas sarjana dengan IP lumayan, ia akan meraih posisi minimal atasan yang punya anak buah. Ya, Minimal! Ternyata tidak! sebaliknya pekerjaan yang ia dapat nyatanya jauh dari bayangan, justru pekerjaan tersebut lebih cocok untuk lulusan SMK. Kondisi itu membuatnya merasa malu dan kecewa.

Perasaan kecewa itu  memengaruhi pekerjaaannya dan sikapnya dalam bekerja. Ia sebetulnya punya tanggung jawab, tapi kerap kali banyak melakukan kesalahan dan tidak fokus. Di samping itu ia tidak cekatan, sering lupa untuk pekerjaan teknis, selalu paling terakhir menyelesaikan beberapa pekerjaan, sering terlambat, ceroboh, waktu luang tidak mau dipakai belajar atau mengasah skill, ketika malam sering tertidur dan para atasan dari low hingga middle management sering mendapatinya memain hp di waktu bekerja. Dalam waktu singkat image yang terbentuk buruk dipikiran banyak orang. Terlebih kesehatannya menurun karenanya surat dokternya banyak, hal yang tidak disukai kebanyakan perusahaan terhadap karyawannya.

Suatu waktu ia dipindah, alasanya shift lain menbutuhkan orang. Tapi konon beredar kabar  itu hanya alasan untuk atasannya yang tidak suka padanya. Maka ia pun pindah shift. Beberapa lama setelah pindah shift, 3 teman seangkatannya  mendapat promosi. Ia dan kawannya sama sama menerima beasiswa dan menjalani kontrak kerja, tapi kawannya melesat lebih dulu. Karirnya meningkat lebih cepat. Bahkan mereka menjadi atasannya di lapangan.  Saat itu ia merasa payah. Hatinya hancur. Ia merasa terpuruk dan seolah menjadi pecundang.

Kira-kira bagaimna nasib A berikutnya?  Apakah pekerjannya tambah buruk?

Ternyata TIDAK. Ada hikmah yang baru ia sadari jauh-jauh hari setelah kepindahannnya. Dalam kurang dari dua tahun, mister A berhasil merubah imagenya 180 derajat. Ya! Ia benar-benar berubah! Ia tak pernah tidur ketika shift malam, mengurangi memegang HP,  meningkatkan pengetahuaanya terhadap apa yang ia kerjakan. Lebih fokus, lebih cekatan! Bahkan tidak ada celah sedikipun orang lain untuk mengkritiknya. Atasannya dari low hingga middle memberi nilai A berbanding terbalik dengan nilainya dulu.  Gajinya meningkat tinggi dibanding teman-temannya. Secara absensi ia masih kurang bagus, tapi peformanya mengungguli mereka yang absensinya bagus. Terbukti peningkatan gajinya sama dengan mereka yang absesensinya sempurna. Bagaimana rahasianya?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar