Rabu, 18 November 2015

Jeruji Kaca

Saya membenci bosan sama seperti membenci malas. Saat merasakan bosan seolah jiwa saya terseret dalam sebuah penjara kaca. Mendekam di sana. Hanya mampu bercermin dan itulah jenis siksaannya. Setiap saat hanya melihat wajahmu, tangan, kaki atau tubuhmu. Berhari-hari dari membuka mata dan memejamkannya lagi, mau tidak mau hal minimal yang dilakukan yaitu melihat bayanganmu dalam cermin. Bosan, bukan? Membayangkannya saja sudah mengerikan.

Maka apa yang di harapkan saat itu? Aku mengharapkan dapat memecahkan kaca tetsebut. Atau seseotang dari luar tiba-tiba menggantamkan palu. Kaca retak. Dan beberapa detik kemudia pecah lantas aku keluar. Bebas.

Bosan ialah tentang rutinitas dan ketidakbetdayaan. Sekat-sekat kaca tak terlihat sering tidak disadari membatasi. Kebosanan itu merenggut kebahagiaan.

Maka lakukan sesuatu, untuk menghancurkan penghalang itu. Lakukan dobrakan. Lakukan hal yang dulu tidak berani kamu lakukan. Atau yang sempat tertunda. Atau kamu lakukan setengah-setengah. Bisa jadi justru itulah senjatamu (baca :passion)selama ini yang selama ini tanpa sadar kamu cari untuk menghancurka jeruji sel mu.

Atau bila kamu tidak bisa melakukannya sendiri, saat ini. Carilah seseorang yang bisa melakukannya untukmu. Menepuk baahumu. Menyemangatimu. Menarikmu keluar dari zina nyaman. Mengenalkanmu dmbagaimana indahnya dunia ktika kau berhasil menjalaninya dengan sempurna. Carilah seseorang dengN pengalaman menghancirkan kaca tersebut. Karena dialah yang paling bisa menghancurkan kacamu.

Sabtu, 26 September 2015

Kucing Sialan!


Prompt #89 : Kucing Sialan!


Istriku sedang ada tugas ke daerah lagi dan aku akan kesepian lagi sebulan ke depan. Malang bagiku jadi lelaki rumah tangga. Sialnya, aku ini lelaki yang gampang tergoda jika tidak ada kegiatan sepanjang hari. Biasanya aku mengunjungi Marni. Mantan lama yang tidak jarang juga ditinggal suaminya ke luar kota.  Tapi kini tampaknya mustahil. Apalagi sejak pertama kali rahasiaku bocor, entah bagaimana, Istriku tahu perselingkuhanku. Barangkali gosip Ibu-Ibu komplek mengingat jarak bertemu begitu dekat. Maka ia mulai mengawasiku.

Namun, pernah sekali waktu aku nekat. Melihat kondisi aman. Mungkin ia terburu-buru hingga lupa.  Seperti biasa setelah buat janji, sepeninggal istriku, esoknya aku ke rumah Marni. Membayar rindu. Perumahannya di sebrang perumahanku. Sialnya belum beberapa langkah kaki meninggalkan rumah. HP-ku berbunyi. SMS masuk.

"Kan sudah kubilang, urus rumah! Jangan coba-coba lagi bertemu mantanmu itu!"

Buluk kudukku berdiri. Kukira dia lupa. Ternyata disembunyikannya. Ampun. Dari situ pengawasanya bertambah, selain pintu depan (satu-satunya akses keluar masuk rumah) selalu dalam jarak pandang, suaraku harus terdengar. Kalau-kalau aku tengah di dapur atau di kamar mandi atau di tempat di luar jangkauan pandangnya.

Kejemuan melanda. Mencuci piring. Mengepel. Menyetrika. Semua kulakukan sambil bersiul. Oh...  malangnya menjadi bapak rumah tangga. Benar-benar bosan. Aku harus mencari akal.

Tiba-tiba jendela pintu dapur yang terpasang permanen mencuri perhatianku. Kunyalakan keran air  untuk menutupi suara kaca yang akan kupecahkan. Berhasil. Kenapa tidak terpikirkan dari dulu?

Sekarang aku menghirup udara bebas. Di jalan aku tetap bersiul. Kali ini langkahku lebih ringan ke rumah Marni.

Tiba-tiba telepon berdering. Aku terperanjat. Dari istriku? Bagaimana bisa?
"Kamu berani ketemu Marni lagi, Ya?"
Aku tergugu.

"Ga bisa ngomong, ya? Itu kucing dari dapur sedang bawa mulutmu, kamu kira aku terkecoh dengan siulanmu, ya?! Pulang!!"

Ampun. Kucing sialan. Sepertinya sebelah mata yang ditinggalkan istriku di ruang tamu melihat kucing entah dari mana membawa mulutku dari dapur. Sial!


#Ikut Meramaikan
#mudahan ngerti



Jumat, 18 September 2015

Gadis Penguyah Hujan


Oleh Robi Suganda


Sumber Gambar : riskandani93.wordpress.com

Apa yang ada dalam benaknya ? 

Setiap kali hujan menyapa bumi, 

di halaman komplek ruko, 

kudapati seorang gadis tanpa malu sedikit pun 

selalu melakukan hal aneh.

Bermula ketika hari kedua setibaku di ruko milik paman. Ayah memaksaku menemani paman saat libur kuliah. Ketika hujan turun, saat hendak menutup jendela lantai atas, Aku terperangah. Tampak seorang gadis, memejamkan mata sambil membuka tangannya lebar-lebar, kepalanya menengadah ke langit. Seolah menyambut rinai-rinai hujan yang membasahi sekujur tubuhnya. Ia tersenyum lantas setengah berlari mengitari halaman. Ia seperti kegirangan menyambut hujan.

"Gadis bodoh, paling habis ditembak lelaki, " lirihku lantas menutup jendela.

Saat makan malam, kutanyakan ikhwal gadis itu. Paman menggeleng, lalu tiba-tiba berujar,

"Setahu paman, kekasihnya pernah kecelakaan dekat sini." Kutangkap raut aneh dari wajahnya. Aku terpekur, gadis yang malang, batinku. 

Tidak hanya sekali, esok, lusa bahkan dalam seminggu tiap kali hujan turun, ia melakukan hal yang sama. Ini jelas bukan tentang cinta. Dan entah mengapa perlahan aku jadi menikmati tingkahnya. Hingga tiap datangnya hujan, sesuatu dalam hati mendorongku untuk mengintipnya lewat jendela.

***

Malam ini langit cerah. kulihat ia tengah duduk seolah menanti kedatangan hujan. Setelah mengumpulkan keberanian, didesak oleh rasa ingin tahu yang tak tertahankan, kucoba menghampirinya.

"Hujan itu kenangan, aku hanya menikmatinya," Ungkapnya menjawab rasa ingin tahuku. Ia menjawab santai sambil menggoyang-goyangkaan kakinya.

"Karena itu kamu selalu menari-nari kala hujan tiba?" Ia bergeming, tersenyum memandangi langit. Lalu tanpa melihatku, ia membalas,

"Mungkin, Kak. suatu saat bergeraklah bersamaku di bawah rinai-rinai hujan ini. Kakak akan mengerti," gadis itu lantas menatapku, seolah ia berseru dengan nada menantang, Berani?

"Ogah!" aku melengos.

***

Hujan tiba. Angin melalui celah jendela membisikiku, lantas seperti biasa segera diam-diam kuintip gadis itu melalui jendela. Hujan mereda, tapi tetap tak nampak batang hidungnya. Begitupun esok dan lusa. Berasa kehilangan. Kecemasan menggelayutiku. Kuminta alamatnya pada paman. Ia terdiam dan menyodorkan selembar kertas berisi alamat. Aku mengetuk pintu rumahnya, yang ternyata tidak jauh.

"Fais? Silahkan masuk." Pria setengah baya itu langsung menuntunku kekamar. Dahiku berkerut. Ada yang mengganjal. Kudapati gadis itu terbaring lemah dengan selimut menyelimuti hampir seluruh tubuh selain kepala.

"Ternyata kamu sakit."

"Akibat hujan sepertinya."

"Siapa suruh bermain hujan."

"Kamu."

"Maksudmu?"

Ia diam lalu menunjuk sebuah foto yang bertengger di dinding belakangku. Aku terkejut. Tampak gambar kami berdua. Hah. Bagaimana bisa. Beribu tanda tanya hinggap di kepala. Seolah membaca raut penuh tanya, Ia berkata,

"Kamu hilang ingatan Fais, karena kecelakaan setahun lalu." Langit-langit terasa runtuh. Pikiranku kacau. Perasaan campur aduk. Mendadak aku pamit tanpa berkata apapun.

Itulah mengapa tadi ayahnya tahu namaku, padahal tak pernah sekalipun kuberitahu gadis itu?Kecelakaan itukah yang dimaksud paman dulu? Apakah ia menari demi membuka kembali kenangan? Inikah mengapa ayah memaksaku kesini? Pertanyaan demi pertanyaan menghujani kepalaku. Menyesakkan dada. Aku berlari entah karena apa. Semuanya tampak kabur. Benarkah semua ini?

Hujan menyapa. Mendadak aku berhenti. Membiarkan bulir-bulirnya menyentuh pori-pori kulitku. Mataku terpejam. Menikmati. Lantas perlahan pikiranku melayang. Tampak diriku dan gadis itu berlari-lari di bawah hujan. Begitu riang. Si gadis tertawa lebar. Satu demi satu kenangan itu hadir. Apakah gadis penyuka hujan itu adalah kekasihku?

-End-

Kerinduan Robert

Oleh Robi Suganda


"Aku mencintaimu."

Robert tersenyum. Bulir-bulir bening berhamburan dari kelopaknya. Ia terharu.

***

Berpuluh-puluh tahun, sejak usia 25, ia habiskan setiap detiknya dalam ruangan bawah tanah. Ruangan rahasia yang tersembunyi dalam rumah besarnya. Sejak kecil, kesepian adalah sahabat setia Robert. Orang tuanya selalu sibuk berdagang keliling eropa. Mereka memercayai Robert pada pengasuh. Pengasuh yang sama sekali tak peduli dan tidak menyenangkan.Kehadiran pengasuh bukan mengobati kesepiannya, malah memperlebar ruang kesepian di hati robert. Ia bahkan lupa hingga tak mengenal apa itu cinta, perhatian atau kasih sayang.

Saat SMA, Robert tertarik dengan elektro. Ia senang merakit aplikasi-aplikasi sederhana. Rasa ingin tahu yang besar dan demi mengobati kesepiannya yang berlarut-larut, Robert menghabiskan waktunya membaca dan bereksperimen hingga larut malam di lab sekolah.

Tak di sangka, Robert mampu melampui teman bahkan guru-gurunya. Mereka berdecak tak percaya melihat kejeniusan Robert memecahkan hal rumit. Robert mampu menguasai bahasa Assembler, bahasa pemrogaman tingkat tinggi. Menguasai Mikrokontroller dan PLC, otak dari sistim otomatisasi. Ia pun mengenal dan menguasai penggunaan dan prinsip kerja segala perangkat keras bahkan yang belum ada di sekolahnya. Robert penyendiri, begitu julukannya dulu, berubah menjadi Robert jenius.

Suatu hari, beberapa mitra bisnis serta kolega-kolega dari mancanegara datang ke rumah mencari orang tua Robert. Mereka lalu memaksa menggeledah isi rumah. Namun mereka tak menemukan seorangpun selain pengasuh. Sebagian dari mereka melapor pada polisi. Kota gempar dengan kehilangan sepasang pedagang yang punya pengaruh dan disegani di kota.

Sedangkan Robert hanya menyendiri di ruang rahasianya. Seolah tidak peduli dengan kegemparan tersebut. Sementara Pengasuhnya, mengetahui ketidakjelasan keberadaan orang tua Robert dari polisi setelah berbulan-bulan, memutuskan berhenti, meninggalkann robert dan rumah megahnya. Kini, di rumah besar yang sekarang tampak kusam itu, hanya ditempati Robert seorang diri, dan ia selalu menempati ruang rahasianya. Ruangan bawah tanah. Bereksperimen hingga bertahun-tahun. Setelah orang tua Robert menghilang, pengasuhnya berhenti, Robert berhenti sekolah.

Sesekali Robert keluar rumah untuk membeli makan. Di jalan orang-orang yang melihatnya, menyangka Robert orang gila. Sebab pakaiannya lusuh. Rambutnya tergerai panjang, kasar, dan tak beraturan. kumisnya lebat begitupun jenggotnya. Sedangkan Kabar menghilangnya orang tua Robert yang sempat heboh meredup. Semua orang sudah melupakannya.

Robert tak henti menatap layar monitor yang menjejal. Kabel-kabel berseliweran di ujung dinding. Terdapat banyak perangkat-perangkat keras melingkupi ruangan seperti Motor servo dan perangkat Pnumatik dengan nomor serial terbaru di jamannya . Pencahayaan ruangan redup.

Sesekali ia merubah-rubah program, lalu meng-klik tombol enter pada keybord, lantas tangan dari besi serupa jari manusia bergerak seolah ingin menggeggam. Robert tersenyum. Lantas ia kembali mengutak-atik program. Terdengar suara menyebutkan sesuatu. Lagi -lagi Robert tersenyum. Lalu ia menyambung-nyambungkan beberapa komponen. Menyolder. Mengelas. Begitu seterusnya. Hingga 25 tahun. Sementara di atas meja besar di belakang monitor komputernya tergeletak dua orang manusia. Yang sudah tak berbentuk. Dengan bau yang sudah akrab di hidung robert.

***

"Makanlah robert, kamu lapar kan? Biar ibu masakan makanan untukmu."

"Robert, sini ayah ajari kamu bermain bola."

"Robert, buku cerita mana yang kamu suka? Biar ibu bacakan buatmu."

Tangis Robert menderas. Satu persatu ia tatap wajah di depannya. Tangannya yang keriput pelan-pelan membelai mereka. Dan tangan orang-orang didepannya serta merta membelai wajah keriput robert. Ada kabel-kabel panjang, warna-warni yang menjulur dan menancap pada tangan tersebut. Juga terhubung di punggung dan kaki mereka. Kabel tersebut berasal dari CPU besar yang terpusat pada CPU kecil, tempat Robert menulis program.

"Aku mencintaimu Robert." Kini mereka bersamaan mengucapkannya. Robert tak kuasa menahan tangis untuk kesekian kalinya. Tubuhnya berguncang. Kembali ia tatap wajah Ibu dan Ayahnya. Tubuh mereka tak utuh lagi. Menyatu dengan beberapa perangkat keras. Hanya wajah mereka yang utuh. Sedangkan dalam kepalanya tertancap sekelumit rangkaian elektronik.

Ruang kesepian di hati Robert mengecil. Rasa kesepian itu sejenak terobati. Kini Robert bisa bersama orang tuanya lagi. Mendengar suara yang dirindukannya sejak lama. Yang pernah ia dengar ketika Robert masih kecil, saat kehidupannya masih sederhana. Saat orang tuanya masih memberi cinta untuknya.

Tak ada yang tahu, suatu malam, orang tua Robert mencari Robert ke seluru penjuru rumah. Tak sengaja ia menemukan ruang bawah tanah di bawah kasur. Setelah turun, Ia lihat anaknya tengah mengetik tanpa menyadari kehadiran mereka. Tak sengaja, sewaktu mereka menghampirinya. Mereka menginjak kabel yang sudah mengelupas. Seketika jutaan volt menyambar tubuh mereka, lantas saat itu juga mereka meregang nyawa.

Menyadari itu, Robert tak henti menangis. Ia menyesal sempat menunda memperbaiki kabel itu. Ia tatap wajah-wajah orang tuanya dan berjanji akan membuat mereka kembali seperti semula.

Rabu, 16 September 2015

Novelku

                                                         

Prompt #88 - Novelku

Oleh Robi Suganda

                    


“Selalu mengambil diam-diam uangku, apa kau tidak jera?!!”
“Ini sudah keberapa kalinya?!”

Ibu meringkuk  di sisi meja.  Merintih dan terisak-isak. Sekujur tubuhnya nyeri akibat tangan Ayah yang melayang tanpa kendali. Tak ada sepatah kata pembelaanpun terlontar dari bibirnya yang bergetar ditengah isak. Kepalanya menunduk menghindari tatapan tajam Ayah. Urat-urat menyembul dari leher Ayah.

Pemandangan yang menjemukan ini entah sudah yang keberapa kali. Di tengah kegaduhan, aku hanya bergeming sambil menatap layar laptop punya Ayah. Tak kuasa melihat perlakuannya terhadap Ibu, sambil menahan pilu, sekuat tenaga mencoba konsentrasi mengerjakan tugasku.Tugas yang begitu penting.  Sebagian guru menyebutku jenius. Kata mereka, cara bertuturku melebihi usia anak kelas 5 SD pada umumnya. Merekapun terpukau membaca karangan ceritaku. “Kamu jenius, Robi! Kamu berbakat.” Ujarnya.

Suara Ibu melengking, membuyarkan konsetrasi, mengoyak hati dan menambah rasa pilu. Ayah berhentilah! Andai Ayah tahu enam bulan terakhir ini aku tengah menyusun novel. Seorang editor dari penerbit  mayor tidak sengaja melihat tulisanku di mading sekolah saat  diundang mengisi seminar guru.  Ia lantas penasaran membaca tulisan yang lain. Lantas mengajak bertemu, bertanya-tanya lalu menantang membuat novel.

“Dari gaya bahasa dan keunikan cerita-cerita pendek Adek, Adek itu berbakat  buat novel. Kalo Adek mau, Adek buat novel dalam enam bulan. Nanti kakak bimbing dan terbitkan kalo bagus.”
Aku girang bukan main. “Untuk pemula, Adek buat cerita dari penglaman sehari-hari saja.” Begitu katanya pertama kali membimbingku. Susah payah tiap malam merampungkan novel di tengah kegaduhan yang berulang  dan menyesakkan dada mendengar rintihan Ibu. Maafkan aku, Bu.
Kututup telingaku dengan earphone demi mengedit Novelku untuk yang terakhir kali. Rintihan Ibu menambah terus rasa bersalahku. Ayah hentikanlah.

Novel rampung. Kubuka email. Menuliskan alamat email Kakak editor. Menuliskan pengantar. Melampirkan file. Lalu menekan send. Oh ya sebelum itu kutulis judul novelku pada subjek email. “Anak yang mencuri dalam rumahnya.”


16 September 2015
(293 kata)


Senin, 24 Agustus 2015

DILEMA VAKSINASI


Delisa genap 2 tahun tanggal 2 Agustus kemarin. Belakangan ini hampir tiap 2 minggu diserang pilek atau batuk. Bulak balik lah kami ke dokter. Dan mau tidak mau delisha harus diberi antibiotik. Malah pernah antibiotiknya habis tapi pileknya belum sembuh. Ketemu dokter yang beda lalu beri lagi antibiotik.
Delisha anak yang aktif. Gampang meniru. Sedikit pemalu. Kurang lebih sama seperti anak pada umumnya. Di usianya sekarang, motoriknya lebih dominan. Apalagi kalau bertemu macam-macam permainan di daycarenya. Susah diajak pulang.
Nah, di usiamya dua tahun ini saya memutuskan mau memberinya vaksin. Keputusan ini tidak gampang. Dari dia lahir baru sekarang akhirmya saya memberanikan diri memvaksin delisha. Sebuah keputusan yang cukup sulit (agak lebay ya..hehe). Ada dua hal utama yang saya dapat dari berbagai sumber yang sebelumnya bikin saya ragu atau malah anti vaksin.
1. Halal haram
Dari beberapa sumber, media yang dipakai ketika pembuatan vaksin masih mengandung zat haram. Tapi ada yang bilang zat itu tidak terbawa kedalam vaksin saat vaksin sudah jadi. Kurang lebih seperti itu, saya tidak paham detilnya. Intinya penggunaan zat haram ini masih digunakan.
2. Kesehatan
Saya mendapatkan banyak cerita tentang ini, misalnya ada anak yang sudah di vaksin menjadi tidak seaktif sebelumnya. Cenderung pendiam. Dan anak yang tidak divaksin cenderung aktif, lincah dsb.
Ada juga kasus setelah divaksin polio malah terkena polio. Ada juga yang kejang kejang. Malah ada meninggal. Mendengar ini saya bukan ragu lagi tapi anti vaksin banget.hehe
Nah, seiring berjalan waktu, baik sengaja atau tidak sengaja, saya sering dapat info tentang ini, ada artikel yang bikin saya yakin untuk tidak vaksin. Ada yang buat saya ragu, ada juga yang justru mendorong saya cepat-cepat vaksin. Akhirnya setelah baca sana sini, ikut seminar, dan membaca potingan -postingan salah seorang dokter. Saya memilih memvaksin. Alasannya?
Sewaktu seminar, ustad Aam menyampaikan, "sekalipun, misalnya memang haram, karena darurat jadi boleh". Di tambah begitu banyak ulama di dunia yang menghalalkannya. Ada yang mengharamkan tapi tidak lebih banyak dari yang membolehkan. Sementara beberapa orang yang giat mengharamkan, setahu saya tidak berkapasitas dalam berfatwa. latar belakangnya bukan pendidikan agama.
Adapun masalah dampak setelah divaksin, lebih banyak keluar bukan dari ahlinya, dokter. Tapi hanya cerita dari mulut-kemulut. Jarang ada artikel yang menceritakan secara ilmiah. Dan beberapa orang antivaksin yang rata-rata buku nya best seller bukan seorang dengan latar belakang medis. Ada ahli hukum. Enginer pesawat. Dll.Kalaupun dokter bukan dokter anak atau yang paham vaksinasi. Karena itu kadang argumennya gampang dibantah oleh orang kesehatan. Ditambah, ini yang kadang bikin saya miris, info-info yang berkembang dan menyuruh tidak vaksin bisa dibuktikan hoaxnya. Dan amat disayangkan berita tersebut keluar dari situs-situs islam yang saya suka.
Terakhir, dari koran, banyak berita, bahwa deerah-deerah di Indonesia yang seharusnya sudah bebas penyakit x. Belakangan muncul lagi. Dan tempat munculnya memang banyak yang tidak diberi vaksin.
Pertimbangan pertimbangan itu meyakinkan saya untuk memvaksin delisha. Ini bagian dari ikhtiar agar anak tumbuh dengab sehat. Mudah mudahan ke depan ada ahli vaksin yang profesional di bidangnya dan di sisi lain juga ahli agama. Sehingga bisa memberitahu orang bingung macam saya, yang ga ngerti dua-duanya hehe, mana yang terbaik. Syukur-syukur ada muslim taat yang berhasil bikin vaksin yang tidak ada pro kontra lagi dalam kehalalannya. mudah mudahan kelak delisha ambil bagian di bidang ini.hehe..aminn
Wassalam

Minggu, 23 Agustus 2015

Kata MUNGKIN dan HARUS/PASTI

‪#‎ilmu‬ baru dari postingan orang.

Kata 'mungkin' lebih ringan dari kata 'harus'.
Saya harus sukses diganti saya mungkin suskes. Rasanya beda.
Saya mungkin pindah ke tempat yang lebih bikin produktif dan bergaji tinggi.
Penggunaan kata ini menghilagnkan beban, dan usaha kita cenderung maksimal.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Buat anak jadi pd

Saya suka memanggil delisha kalo ada kucing. Saya dekatkan dia, saya belai kucingnya supaya dia ikut. Dan Ia sekarang berani dengan kucing. Ia pegang. Ia belai. Meski belaianya masih tampak kaku. Dilain waktu, tidak selembut sebelumnya. Kali ini ia hentakan kaki ke tanah sambil bilang, "hush..hush!" rupanya lagi meniru kita kalau lagi ngusir kucing.
Nah, berbeda sikapnya terhadap cicak, entah mengapa, mendadak ia ga mau tinggal sendiri di kamar. Kadang teriak, "ayah, takut, cicak...cicak...gendong".
Padahal lagi ga da cicak.
Mulanya saya heran sebab dulu pernah saya kasih lihat cicak. Tapi biasa saja. Dia tidak tampak takut.
Baru lama-lama mengerti, saya ingat, pernah ketika menangis, saya bilang ada cicak di langit-langit kamar. Dia terdiam. Sebenarnya maksud saya hanya mau mendiamkan, tapi nada yg di tangkap delisaha sepertinya seolah cicak itu binatang mengerikan. Karena itu sampai sekarang dia sering ketakutan mendengar cicak.
Waktu ia berani terhadap kucing, orang orang sekitar memujinya, karena tidak semua anak seusianya berani dengan kucing. Lalu mengapa dengan cicak takut? Apa hubungannya denngan Percaya diri?
Saya pelan pelan menyadari perbedaan sikap delisha mulanya karena salah asuh. Salah mengarahkan anak membuat dia yg harusnya berani jadi penakut. Begitupun dengan Percaya diri.
Percaya diri itu menurut saya pribadi bagian kondisi mental. Lokasinya tidak keliatan. Kita hanya lihat akibat dari percaya atau tidak percaya diri pada seseorang. Sedangkan penyebanya tidak keliatan. Dari google, saya dapatkan kalau orang tidak percaya diri diantaranya cenderung peragu, susah mengambil keputusan, pesimis, tidak kreatif dan inovatif, dll. Sebaliknya orang dengan tungkat percaya diri yang tinggi lebih tegas, optimis, kreatif, inovatif dll.
Menurut Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling (2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuatatau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, karena itu sering menutup diri.
Jadi tidak percaya diri itu bagi saya seperti penyakit yang menyerang mental seseorang. Artinya kondisi awalnya sehat, bukan? Hanya ada sesuatu yang membuatnya sakit, dan ini hanya bisa digali oleh psikolog.
Jadi, bagi saya, sebenarnya dari lahir anak itu punya ke-PD-an yang tinggi. Belum dua tahun saja, anak saya sudah meniru umminya menyetrika pakaian, menyapu lantai, memasak dll. Rasa penasarannya tinggi. Dan sepertinya semua anak yang saya jumpai seperti itu. Bedanya cara ia mengolah informasi saja. Ada yg visual, auditory, kinestetik dll. Jadi pada masa tertentu anak mulai berbeda beda dalam tindakan mencari dan mengolah informasinya.
Nah kenapa ada yg jadi tidak Percaya diri? Kembali ke awal, pasti ada hal yang disadari atau tidak merupakam kesalahan dalam mengasuh. Yang menyebabkan penyakit pada mentalnya. Saya bukan psikolog atau ahli agama. Tapi sedang menjadi ayah dan membaca beberapa buku tentang mengasuh.hehe. Dari yang saya dapatkan saya sampai saat ini sedang melakukan hal di bawah ini dalam menjaga dan menumbuhkan kepercayaan diri anak.
1. Tidak sering melarang
Delisha sering saya biarkan memenuhi rasa ingin tahunya. Kalaupun apa yang ingin ia lakukan berbahaya, saya kasih tau sebisa mungkin bahayanya-karena dia masih 2 tahun, caranya perlu macam-macam. Sampai dia menghindari sendiri. Kenapa tidak saya larang dari awal? Nanti rasa penasaranya memudar. Kemauan mencobanya berkurang. Keseringan dilarang buat dia malas melakukan sesuatu. Dan selalu merasa salah . Kalo sampai besar begitu kan repot?
Ia besarnya bisa jadi peragu, karena takut salah. Tidak kreatif dan inovatif karena rasa ingin tahu dan mencobanya sudah ditekan sejak dini. Dsb.
2 apresiasi
Kalo lagi main puzzle, setiap kali berhasil meletakan potongan pada tempatnya. Saya dan uminya bertepuk tangan.
"Horee...hebat...bener... !"
Ia tersenyum senang sambil ikut tepuk tangan. Begitupun saat meminta dia mengulangi angka dan doa sebelum tidur. Apabila ucapannya benar kami beri apresiasi.
Rasa senang yang kami tunjukan dengan senyum dan tepuk tangan bagi saya amat berdampak. Menumbuhkan semangatnya, mendorongnya mencoba hal-hal baru.
Misalnya tiba-tiba ia menyusun perkengkapan kosmetik uminya, tanpa sepengetahuan kami, tiba-tiba ia bilang
"Ayah, lihattt..."
Lalu saya puji dan menciumnya. Dia juga akan berlaku sama saat berhasil loncat atau memanjat bingkai pintu, padahal belum dua tahun dan perempuan juga. Tapi saya memilih mengapresiasinya. Saya tidak mau membunuh rasa ingin mencoba dan penasarannya. Hanya karena ketakutan yg blum pasti dengan langsung melarangnya.
Pada tahap memuji ini saya sedang belajar memuji proses, bukan hasil saja. Tapi seiring dia tumbuh, nanti kalau agak besar, mudah-mudahan dia sadar yang terpenting proses, sehingga ia tidak gampang menyerah dan mengutuki sendiri ketika gagal. Malah, karena sifat mau mencoba, menghargai usahamya sejauh apapun, membuat dia lebih menghargai dirinya sendiri. Dan terhindar dari tidak PD.
Baru Itu saja yang sampai saat ini pelan- pelan saya lakukan. Lihat umurnya juga. Makin besar pasti makin banyak yang harus dilakukan untuk membuat anak percaya diri. Sambil juga membiasakan dia berdoa dan mengenalkan penciptanya. Ini penting. Suatu saat Kalo dia shalehah dan imannya kuat, dengan sendirimya ia akan percaya diri. Karena hanya Alloh yang ia takuti, karena Alloh ia berani berbuat yang baik dan benar.
Wassalam.

Rabu, 12 Agustus 2015

Di Tilang....Hiks...Hiks

"Kenapa lampunya ga di nyalakan, dek?"
(Dipanggil ade, serasa muda..he. Padahal lagi bonceng anak sama istri.)
"Lupa pak,he," saya nyengir.
"Mana Sim sama STNK?"
Saya sodorkan STNK setelah itu mencari sim di dompet. Tapi saya baru ingat, sim nya ada di tas. Dan tas nya tertinggal di rumah.
"Wah ketinggalan, kemarin baru urus stnk jadi belum saya msukan lagi ke dompet. Lihat aj stnk nya msih baru."
"Saya tilang STNK nya"
"Baru kemarin dapat STNK baru, masa diambil lagi pak?"
"Sim kamu ga da salah kamu salah saya?!"
(Suaranya meninggi)
"Salah saya!"
Suara saya ga kalah tinggi. Baik baik ngomong di bentak. Haduh.
"Turun dulu! Ikut saya ke pos dulu," bentaknya lagi. Polisi menunjuk sebrang jalan. Sebenarnya bukan pos, hanya halte yang tidak terpakai. Tapi saya harus mengantar istri dan anak. Waktu udah mepet.
"Disini aja! Knpa harus ksana?!"
Polisi tampak kaget.
"Ya udah, turun dulu."
"Tilang di sini aj. Tulis aja sekarang. Saya ga bisa turun! Ni ada anak."
Sekali lagi, polisi tampak kaget.Tergopoh gopoh ia menulis surat tilang warna pink. Rautnya tampak kesal. Karena sya merasa sudah mengakui, sya ga mau warna pink, saya minta surat warna biru.
"Surat biru udah ga bisa, pembayaran di bri udah tdk tersedia. "
" Jadi sya ditilang karena ga nyalakan lampu pak?"
"Ya! Sama ga bawa sim! Ambil di pengadilan tanggal sekian..."
Sya lihat jalanan dan menunjuk dua-tiga orang yg ga menyalakan lampu. Banyak juga yang ga pke helm.
Polisinya merasa kaget plus kesal, tapi buru buru dia hentikan motor yg sy tunjuk. Karena urusan dengan saya udah beres dan sya hrus bergegas pergi mka saya tinggalkan polisi itu. Polisinya tampak melihat sya sambil menilang motor yg saya tunjuk. Sy senyum saja sambil berlalu.
Ngerti sekarang lagi tanggal tua. Tapi salah sasaran pak. He

Selasa, 11 Agustus 2015

Bersama Anak

Anak kita akan tumbuh. Tidak terasa ia akan sekolah. Makin tinggi pendidikannya makin besar pula tingkat kesibukannya.
Otomatis waktu bersama dengan orang tua berkurang, biasanya pada momen ini justru ortu mulai merindukan lagi kehadiran anak. Meski mereka paham, kini anak sudah punya dunianya, sudah punya kesibukannya sendiri.
Karena itu, mumpung masih kecil, sebisa mungkin sya gunakan waktu bersenang senang dengan anak . Alhamdulilah, beberapa hal yg dlu sya pikir mustahil sya lakukan, bisa sya lakulan, memandikan, ganti popok, nyiapin makanan dll Hehe
Memgapa, karena sya tau.belum tentu di masa mendatang saya punya waktu sebanyak sekarang bersamanya.

Senin, 10 Agustus 2015

Motorku...Oh...Motorku...

aya sempat membayangkan yg tidak-tidak. Pikiran itu mempengaruhi irama detak jantung hingga detaknya lebih cepat dari biasanya. Semua orang tau malam minggu, di atas jam 12, biasanya jalan yg sepi berubah jadi arena balap. Motor-motor melaju kencang yg pasti lajunya di atas 60 km per jam.
Di pinggir jalan, beberpa kelompok orang berjalan dengan khasnya masing masing. Yg paling menonjol yaitu khas punk. Ada juga yg berkumpul sambil menjejerkan motornya biasanya ini dari komunitas motor.
Sedangkan saya, entah mimpi apa semalam, harus mendorong motor sekitar 700 m dari cimahi ke kab babdung barat. Awalnya pukul 11.15 saya harus pulang ke bandung. Ke rumah mertua. Anak saya sedang di titip d sana. Tapi belum begitu jauh dari tempat saya bekerja, 800 meteran, laju motor saya tersendat sendat. Terdengar suara aneh dari mesinnya. Merasa tidak enak saya putuskan pulang ke rumah kontrakan saja yg jaraknya tidak jauh dari PT tempat saya bekerja. Sialnya, baru 100 meter, motor kesayangan ini mendadak mati. Tidak bisa di sela dan starter. Wuhs...sya jdi ingat pesan tukang bengkel trakhir, kalo motor sya harus turun mesin. Dengan total biaya 1.5 jta. Sya pikir mash bisa d tunda apalagu sebentar lagi saya ada rencana beli motor baru. Tapi dugaan sya salah.
Tubuh saya jadi berkeringat, motor ini harus saya doromg sampai pt untuk saya titipkan. Selanjutnya saya naik angkot. Belum beberpa jauh, badan sudah berasa pegal. Di situlah saya mulai mengutuki nasib dan memaki maki motor ini.hehe. Tapi saya sadar, itu salah. Saya beristugfar dan berdoa berharap kemudahan.
Selang beberapa menit, sebuah motor menghampiri. Saya terkejut. Ia membuka helm.
"A...habis bensin?"
" nggak, mogok..."
"Owh..kirain habis bensim, "
Karena tidak bsa membantu, orang itu langsung berlalu pergi. Saya kira mau apa. Akhirnya saya lanjutkan lagi olahraga tangan ini.
Tidak di sangka, mau mendekati pt sya melihat bengkel. Tumben sekali ada bengkel buka tengah malam. Akhirmya saya jelaskan permasalhamnya. Ia pun memutuskan turun mesin. Sy menunggumya mengkalkulasi apa sja yg harus di ganti. 1 jam kemudian ia menyebutkan harganya 800 ribu.
Sya kaget, bukan karena mahal. Bukan, tapi justru karena lebih murah 50 persen dari harga montir sebelumnya. Di tambah montirnya berasal dari bukit tinggi, kota yg sma dengan tempat ibu sya lahir, jadi kami merasa lebih dekat. Dan tidak sungkam bertanya lebih detail tentang motor. Pengetahuan saya bertambah.
Sya semakin yakin. Kesulitan datang tidak pernah sendiri. Selalu di temani kemudahan. Bahkan Dua kemudahan. Saat itu sya berucap, Alhamdulilah.
Terima kasih juga sama mas yg mau membantu. smile emoticon

Rabu, 05 Agustus 2015

Bahas Poligami


Saya sering bercanda tema poligami sama istri. Apapun obrolan kami, selalu saya hubungkan dengan tema ini. Rupa rupalah reaksinya. Yang pasti, ga jarang pinggang saya berasa linu hbis dicubit. Rambut di jambak. Atau ditatap tajam. Yang kadang saya paham kalo tatapannya serius. Menakutkan.
Namun suatu hari tiba tiba reaksinya beda. Di luar dugaan saya. Dengan nada serius istri sya berkata.
"Ayah, ga papa mau ikutin Rasul,cari aisyah."
"Hah...masa? "
Saya pura heran. Pdahal hati amat riang.hee.kidding.
"Asal, sama seperti Rasul tunggu khadijahnya meninggal."
Hening....

Kamis, 30 Juli 2015

Benang layangan

Kemarin sore sepulang menjemput anak dari Day care, di pinggir jalan terdengar suara orang berteriak ke arah saya seperrti mau menyampaikan sesuatu. Saya tidak paham. Biasanya ini karena standar, saya cek stamdar sudah sy naikan. Mungkim prasaan saja.
Lalu setelah agak jauh ada lagi tingkah orang yg berteriak. Sprti memberitahu. Sy cek tdk ada maslah. Mungkin teriakan itu di tujukan ke motor d dekat saya. Istri sya juga merasa heran.
Dan itu terjadi 3 kali. Terakhir sya berhentikan motor. Cek ban. Tidak kempes atau bocor. Sya agak kesal. Menggerutu dalam hati. Tapi coba mengabaikan dan melanjutkan pulang.
Esoknya, saat mau jemput anak, saya baru sadar. Ternyata ada gulungan benang layangan menggulung di ban belakang. Kenapa baru lihat sekarng? Astagfirulloh, Jangan-jangan ini yang coba di sampaikan oramg orang di pinggir jalan kemarin. Kenapa saya merasa kesal?
Mungkin sama dalam kehidupan, ada orang-orang yang mencoba memberitahu, tapi saya keburu marah dan tersinggung duluan. Padahal bila saya paham. Maksud orang tersebut tidak lain hanya ingin menolong.