aya sempat membayangkan yg tidak-tidak. Pikiran itu mempengaruhi irama detak jantung hingga detaknya lebih cepat dari biasanya. Semua orang tau malam minggu, di atas jam 12, biasanya jalan yg sepi berubah jadi arena balap. Motor-motor melaju kencang yg pasti lajunya di atas 60 km per jam.
Di pinggir jalan, beberpa kelompok orang berjalan dengan khasnya masing masing. Yg paling menonjol yaitu khas punk. Ada juga yg berkumpul sambil menjejerkan motornya biasanya ini dari komunitas motor.
Sedangkan saya, entah mimpi apa semalam, harus mendorong motor sekitar 700 m dari cimahi ke kab babdung barat. Awalnya pukul 11.15 saya harus pulang ke bandung. Ke rumah mertua. Anak saya sedang di titip d sana. Tapi belum begitu jauh dari tempat saya bekerja, 800 meteran, laju motor saya tersendat sendat. Terdengar suara aneh dari mesinnya. Merasa tidak enak saya putuskan pulang ke rumah kontrakan saja yg jaraknya tidak jauh dari PT tempat saya bekerja. Sialnya, baru 100 meter, motor kesayangan ini mendadak mati. Tidak bisa di sela dan starter. Wuhs...sya jdi ingat pesan tukang bengkel trakhir, kalo motor sya harus turun mesin. Dengan total biaya 1.5 jta. Sya pikir mash bisa d tunda apalagu sebentar lagi saya ada rencana beli motor baru. Tapi dugaan sya salah.
Tubuh saya jadi berkeringat, motor ini harus saya doromg sampai pt untuk saya titipkan. Selanjutnya saya naik angkot. Belum beberpa jauh, badan sudah berasa pegal. Di situlah saya mulai mengutuki nasib dan memaki maki motor ini.hehe. Tapi saya sadar, itu salah. Saya beristugfar dan berdoa berharap kemudahan.
Selang beberapa menit, sebuah motor menghampiri. Saya terkejut. Ia membuka helm.
"A...habis bensin?"
" nggak, mogok..."
"Owh..kirain habis bensim, "
Karena tidak bsa membantu, orang itu langsung berlalu pergi. Saya kira mau apa. Akhirnya saya lanjutkan lagi olahraga tangan ini.
Tidak di sangka, mau mendekati pt sya melihat bengkel. Tumben sekali ada bengkel buka tengah malam. Akhirmya saya jelaskan permasalhamnya. Ia pun memutuskan turun mesin. Sy menunggumya mengkalkulasi apa sja yg harus di ganti. 1 jam kemudian ia menyebutkan harganya 800 ribu.
Sya kaget, bukan karena mahal. Bukan, tapi justru karena lebih murah 50 persen dari harga montir sebelumnya. Di tambah montirnya berasal dari bukit tinggi, kota yg sma dengan tempat ibu sya lahir, jadi kami merasa lebih dekat. Dan tidak sungkam bertanya lebih detail tentang motor. Pengetahuan saya bertambah.
Sya semakin yakin. Kesulitan datang tidak pernah sendiri. Selalu di temani kemudahan. Bahkan Dua kemudahan. Saat itu sya berucap, Alhamdulilah.
Terima kasih juga sama mas yg mau membantu. smile emoticon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar