Delisa genap 2 tahun tanggal 2 Agustus kemarin. Belakangan ini hampir tiap 2 minggu diserang pilek atau batuk. Bulak balik lah kami ke dokter. Dan mau tidak mau delisha harus diberi antibiotik. Malah pernah antibiotiknya habis tapi pileknya belum sembuh. Ketemu dokter yang beda lalu beri lagi antibiotik.
Delisha anak yang aktif. Gampang meniru. Sedikit pemalu. Kurang lebih sama seperti anak pada umumnya. Di usianya sekarang, motoriknya lebih dominan. Apalagi kalau bertemu macam-macam permainan di daycarenya. Susah diajak pulang.
Nah, di usiamya dua tahun ini saya memutuskan mau memberinya vaksin. Keputusan ini tidak gampang. Dari dia lahir baru sekarang akhirmya saya memberanikan diri memvaksin delisha. Sebuah keputusan yang cukup sulit (agak lebay ya..hehe). Ada dua hal utama yang saya dapat dari berbagai sumber yang sebelumnya bikin saya ragu atau malah anti vaksin.
1. Halal haram
Dari beberapa sumber, media yang dipakai ketika pembuatan vaksin masih mengandung zat haram. Tapi ada yang bilang zat itu tidak terbawa kedalam vaksin saat vaksin sudah jadi. Kurang lebih seperti itu, saya tidak paham detilnya. Intinya penggunaan zat haram ini masih digunakan.
2. Kesehatan
Saya mendapatkan banyak cerita tentang ini, misalnya ada anak yang sudah di vaksin menjadi tidak seaktif sebelumnya. Cenderung pendiam. Dan anak yang tidak divaksin cenderung aktif, lincah dsb.
Ada juga kasus setelah divaksin polio malah terkena polio. Ada juga yang kejang kejang. Malah ada meninggal. Mendengar ini saya bukan ragu lagi tapi anti vaksin banget.hehe
Nah, seiring berjalan waktu, baik sengaja atau tidak sengaja, saya sering dapat info tentang ini, ada artikel yang bikin saya yakin untuk tidak vaksin. Ada yang buat saya ragu, ada juga yang justru mendorong saya cepat-cepat vaksin. Akhirnya setelah baca sana sini, ikut seminar, dan membaca potingan -postingan salah seorang dokter. Saya memilih memvaksin. Alasannya?
Sewaktu seminar, ustad Aam menyampaikan, "sekalipun, misalnya memang haram, karena darurat jadi boleh". Di tambah begitu banyak ulama di dunia yang menghalalkannya. Ada yang mengharamkan tapi tidak lebih banyak dari yang membolehkan. Sementara beberapa orang yang giat mengharamkan, setahu saya tidak berkapasitas dalam berfatwa. latar belakangnya bukan pendidikan agama.
Adapun masalah dampak setelah divaksin, lebih banyak keluar bukan dari ahlinya, dokter. Tapi hanya cerita dari mulut-kemulut. Jarang ada artikel yang menceritakan secara ilmiah. Dan beberapa orang antivaksin yang rata-rata buku nya best seller bukan seorang dengan latar belakang medis. Ada ahli hukum. Enginer pesawat. Dll.Kalaupun dokter bukan dokter anak atau yang paham vaksinasi. Karena itu kadang argumennya gampang dibantah oleh orang kesehatan. Ditambah, ini yang kadang bikin saya miris, info-info yang berkembang dan menyuruh tidak vaksin bisa dibuktikan hoaxnya. Dan amat disayangkan berita tersebut keluar dari situs-situs islam yang saya suka.
Terakhir, dari koran, banyak berita, bahwa deerah-deerah di Indonesia yang seharusnya sudah bebas penyakit x. Belakangan muncul lagi. Dan tempat munculnya memang banyak yang tidak diberi vaksin.
Pertimbangan pertimbangan itu meyakinkan saya untuk memvaksin delisha. Ini bagian dari ikhtiar agar anak tumbuh dengab sehat. Mudah mudahan ke depan ada ahli vaksin yang profesional di bidangnya dan di sisi lain juga ahli agama. Sehingga bisa memberitahu orang bingung macam saya, yang ga ngerti dua-duanya hehe, mana yang terbaik. Syukur-syukur ada muslim taat yang berhasil bikin vaksin yang tidak ada pro kontra lagi dalam kehalalannya. mudah mudahan kelak delisha ambil bagian di bidang ini.hehe..aminn
Wassalam
